Protista mirip tumbuhan (Ganggang)

Protista mirip tumbuhan atau biasa juga disebut ganggang pertama kali ditemukan sekitar 500 hingga 600 tahun yang lalu. Ganggang dipercaya sebagai leluhur dari semua tumbuhan darat.

Anggapan demikian muncul karena adanya beberapa kesamaan antara ganggang dan tumbuhan. Keadaan itu pulalah yang menyebabkan para saintis dahulu mengelompokkan ganggang sebagai tumbuhan.

Dapatkah kamu mengemukakan beberapa persamaan antara protista mirip tumbuhan (ganggang) dan tumbuhan tingkat tinggi?

Ganggang dapat dijumpai di berbagai tempat misalnya di tempat-tempat yang lembap air tawar dan laut. Selain itu mereka juga dapat ditemukan menempel pada batu karang di pantai, dinding rumah, dan pohon.

Diperkirakan sebanyak 20.000 spesies ganggang di bumi telah teridentifikasi. Sementara itu, spesies lainnya yang belum teridentifikasi masih banyak terutama yang hidup di lautan.

Ciri protista mirip tumbuhan (Ganggang)

Struktur tubuh ganggang ada yang uniseluler dan ada pula yang multiseluler. Ganggang uniseluler ada yang hidupnya berkelompok membentuk koloni dan ada juga yang hidup sendiri-sendiri (soliter).

Ganggang multiseluler kebanyakan berbentuk seperti benang sedangkan sisanya berbentuk lembaran. Ukuran tubuh ganggang sangat beragam.

Mereka ada yang bersifat mikroskopik dan ada juga yang bersifat makroskopik sehingga dapat dilihat secara langsung tanpa alat bantuan.

Ganggang sudah memiliki dinding sel. Di dalam sel terdapat inti yang sudah dilengkapi oleh membran inti. Adanya membran inti tersebut menempatkan protista mirip tumbuhan (ganggang) sebagai salah satu makhluk hidup eukariotik.

Baca juga: Tikus Ompong, Hewan pengerat Spesies Baru Endemik Indonesia

Kebanyakan ganggang memiliki klorofil sehingga mereka dapat melakukan fotosintesis. Ganggang demikian dikatakan bersifat autotrof.

Selain memiliki pigmen fotosintesis (klorofil), ganggang juga memiliki pigmen lain, misalnya fokusianin (pigmen biru), fukoeritrin (pigmen merah), fukosantin (pigmen coklat), karotin (pigmen keemasan), dan xantofil (pigmen kuning).

Di dalam dunia taksonomi, perbedaan macam pigmen yang dikandung protista mirip tumbuhan sering dijadikan sebagai salah satu dasar dalam pengklasifikasian ganggang.

Reproduksi ganggang

Reproduksi protista mirip tumbuhan (ganggang)dapat terjadi secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual). Reproduksi vegetatif dapat dilakukan dengan cara pembelahan biner, fragmentasi, atau dengan pembentukan zoospora. Reproduksi generatif biasa dilakukan dengan cara konjugasi dan peleburan sel kelamin jantan dan betina.

Daur hidup ganggang hijau
Daur hidup (reproduksi) ganggang hijau

Berikut ini beberapa cara reproduksi protista mirip tumbuhan (ganggang)

1. Pembelahan biner

Pembelahan biner adalah pembelahan ganggang menjadi dua bagian yang sama. Mekanisme reproduksi demikian biasa terjadi pada golongan protista mirip tumbuhan yang bersel satu (uniseluler).

2. Fragmentasi

Fragmentasi yaitu adalah reproduksi dengan cara pemutusan bagian tubuh menjadi beberapa bagian. Selanjutnya potongan-potongan tubuh tersebut akan tumbuh menjadi individu-individu baru.

Reproduksi dengan cara fragmentasi biasa terjadi pada protista mirip tumbuhan yang berbentuk koloni, benang, dan lembaran.

3. Zoospora

Zoospora atau spora kembara adalah bentuk reproduksi vegetatif lainnya pada umumnya jenis protista mirip tumbuhan (ganggang).

Pembentukan spora bermula dari pembelahan protoplasma secara membujur menjadi beberapa bagian (umumnya berupa kelipatan dua).

Setiap potongan protoplasma terbungkus oleh dinding sel baru yang dilengkapi dengan bulu cambuk (flagel). Di dalam flagel tersebut memungkinkan spora dapat bergerak dan berenang di dalam air.

4. Konjugasi

Konjugasi adalah bentuk reproduksi generatif pada ganggang yang ditandai dengan adanya penonjolan dua sitoplasma pada dua benang ganggang yang berdekatan. Kedua ujung sitoplasma tersebut saling bertemu dan melebur membentuk saluran konjugasi.

Saluran konjugasi berguna untuk mengalirkan sitoplasma dan inti sel dari satu sel yang satu ke sel yang lain sehingga melebur membentuk zigot. Selanjutnya zigot akan membelah secara meiosis menghasilkan benang haploid baru.

Reproduksi dengan cara konjugasi tersebut biasa berlangsung pada protista mirip tumbuhan yang berbentuk benang (filamen).

5. Isogami dan Oogami

Reproduksi generatif lainnya pada protista mirip tumbuhan dapat dilakukan dengan cara peleburan dua gamet baik melalui isogami maupun oogami.

Isogami adalah proses peleburan gamet jantan dan betina yang bentuk dan ukurannya sama besar. Kedua macam gamet demikian disebut isogamet.

Oogami, disebut juga heterogami, adalah proses peleburan antara dua gamet yang berbeda sifat dan ukurannya; gamet betina berukuran besar dan imotil, sedangkan gamet jantan berukuran kecil dan motil. Kedua gamet demikian disebut heterogamet.

Klasifikasi protista mirip tumbuhan (ganggang)

Klasifikasi protista mirip tumbuhan didasarkan pigmen yang dominan pada tubuhnya. Jenis protista mirip tumbuhan atau ganggang dapat dibedakan atas enam filum.

Keenam filum protista mirip tumbuhan tersebut adalah filum Pyrrophyta, Euglenophyta, Phaeophyta, Chrysophyta, Rhodophyta, dan Chlorophyta.

1. Filum Pyrrophyta (ganggang api)

ganggang api

Semua anggota ganggang api memiliki dua flagel. Itulah sebabnya kelompok protista mirip tumbuhan ini disebut juga Dinoflagellata.

Dinoflagellata kebanyakan hidup di laut meskipun beberapa di antaranya hidup di air tawar. Beberapa jenis ganggang api hidup dengan membentuk koloni.

Ganggang api mengandung klorofil a dan c. Warna ganggang api sangat bervariasi, mulai dari warna kuning kehijauan hingga coklat.

Ganggang api dapat menyebabkan laut tampak bercahaya pada malam hari (tampak berupa kelip-kelip cahaya). Beberapa jenis ganggang api dapat bersimbiosis dengan hewan laut, misalnya koral.

Pada kehidupan tersebut, ganggang api menggunakan koral sebagai tempat hidupnya, sedangkan koral memperoleh makanan dari ganggang.

Biasanya, koral yang hidup dalam bentuk simbiosis tersebut dapat tumbuh sepuluh kali lebih cepat dibandingkan dengan koran lainnya yang tidak melakukan simbiosis.

Pada kondisi tertentu beberapa ganggang api dapat meningkat jumlahnya sehingga menyebabkan suatu gejala yang disebut pasang merah (red tide) di laut.

Pada kondisi demikian, ganggang api dapat mengeluarkan toksin (racun). Toksin tersebut dapat terakumulasi di dalam tubuh hewan penyaring makanan (filter feeder), misalnya tiram dan kerang. Pada hewan penyaring makanan jumlah toksin dapat meningkat tanpa menimbulkan efek pada mereka.

Akan tetapi, efek toksin akan muncul pada hewan yang memakan hewan penyaring makanan, misalnya ikan, burung, dan mamalia. Efek toksin tersebut dapat menyebabkan hewan tersebut sakit atau mati. Contoh ganggang api yang memiliki toksin adalah Gymnodinium dan Gonyaulax.

2. Filum Euglenophyta

Euglenophyta

Euglenophyta bersama ganggang keemasan dan ganggang api dikenal sebagai protista mirip tumbuhan yang bersel satu (uniseluler). Mereka kebanyakan hidup sebagai fitoplankton. Euglenophyta dapat hidup di laut dan air tawar.

Anggota filum euglenophyta memiliki klorofil a dan b serta alat gerak berupa flagela (satu hingga tinga flagel). Salah satu contoh dari filum ini adalah Euglena.

Dalam dunia sains, Euglena sering dijadikan sebagai objek percobaan karena protista mirip tumbuhan ini mudah didapat dan dibiakkan. Umumnya Euglena ditemukan di air tawar. Euglena biasa bereproduksi dengan cara membelah diri ke arah memanjang (longitudinal). Sayangnya, reproduksi seksual Euglena belum begitu dikenal.

Mempelajari Euglena ini sangat menarik. Anggota genera ini dikenal mampu memperlihatkan ciri-ciri yang dimiliki tumbuhan dan hewan. Selain itu, Euglena juga menjadi salah satu filum protista mirip tumbuhan yang mudah ditemukan.

Pada kondisi cukup cahaya, Euglena dapat melakukan fotosintesis. Hal demikian memperlihatkan Euglena memiliki ciri tumbuhan. Sebaliknya, jika kondisi tidak memungkinkan, misalnya tidak ada cahaya, maka Euglena memperoleh makanannya dengan cara memakan zat-zat organik. Dalam hal ini, Euglena memperlihatkan diri sebagai hewan.

Ciri hewan lainnya yang dimiliki oleh Euglena adalah memiliki bintik mata (stigma) dan kemampuannya untuk bergerak. Euglena bergerak dengan menggunakan bulu cambuk (flagel). Salah satu jenis genera ini adalah Euglena viridis.

3. Filum Phaeophyta (Ganggang coklat)

ganggang coklat

Pada umumnya ganggang coklat ditemukan hidup di laut, terutama di daerah beriklim dingin. Bentuk tubuh ganggang coklat tampak menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena adanya bagian yang menyerupai akar, batang, dan daun.

Tinggi ganggang coklat dapat mencapai 50 sampai 100 meter. Beberapa ganggang coklat juga ditemukan di daerah pantai, melekat pada batu karang.

Ganggang coklat hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar), sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air. Ganggang coklat dapat mengapung karena memiliki gelombang udara (air bladder).

Warna coklat pada kelompok protista mirip tumbuhan ini disebabkan oleh pengaruh dominasi pigmen coklat (fukosantin). Selain pigmen cokelat, pada ganggang coklat juga ditemukan pigmen lainnya berupa klorofil a dan c serta karotin. Hasil fotosintesis dari ganggang coklat disebut laminarin yaitu semacam karbohidrat.

Ganggang coklat bereproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dilakukan dengan cara pembentukan spora atau fragmentasi. Reproduksi generatifnya hampir serupa dengan reproduksi generatif tumbuhan tingkat tinggi.

Pada ujung lembaran yang fertil biasa terdapat reseptakel, yaitu suatu badan penghasil alat reproduksi. Di dalam reseptakel terdapat konseptakel yang mengandung ovum atau spermatozoa atau keduanya.

protista mirip tumbuhan sargassum
Populasi Sargassum di East Coast Barbados, September 2014 | credit H. Oxenford

Peleburan ovum dengan sel spermatozoid akan membentuk zigot. Selanjutnya, zigot tumbuh menjadi sporofit muda. Kebanyakan ganggang coklat mengalami pergiliran keturunan dalam siklus hidupnya antara gametofit dan sporofit.

Di Indonesia, jenis ganggang coklat yang terkenal adalah Turbinaria australis, Sargassum siliquosum, dan Fucus vesiculosus. Ketiga jenis ganggang tersebut biasa dijumpai di sepanjang garis pantai.

Di laut yang beriklim sedang, terutama di laut Atlantik Utara dikenal sebagai kawasan ganggang Sargassum. Ganggang tersebut tampak mengembang menutupi sebagian permukaan laut sehingga orang mengenalnya sebagai Laut Sargasso.

Anggota kelompok ganggang coklat ini juga dikenal sebagai giant kelps atau tumbuhan berukuran raksasa. Misalnya Macrocystis dan Nereocystis, yang hidup di pantai Pasifik.

Ganggang coklat dapat menghasilkan asam alginat yang bermanfaat sebagai bahan industri makanan, obat-obatan, cat, dan sebagai bahan campuran es krim. Di dalam ekosistem perairan, ganggang coklat berperan sebagai tempat berlindung dan tempat perkawinan bagi hewan laut.

Beberapa ganggang coklat ada yang juga yang menghasilkan yodium, pencegah penyakit gondok. Selain itu, ganggang coklat dapat pula menghasilkan kalium, nitrogen, dan fosfor yang bermanfaat sebagai bahan pembuatan pupuk atau bahan makanan ternak.

4. Filum Chrysophyta (Ganggang keemasan)

protista mirip tumbuhan

Ganggang keemasan dapat ditemukan di air tawar, laut, dan di permukaan tanah yang basah. Struktur tubuh jenis protista mirip tumbuhan ini ada yang berupa sel tunggal dan ada yang tersusun dari banyak sel.

Warna keemasan pada ganggang chrysophyta disebabkan oleh pigmen karoten dan xantofil. Kedua macam pigmen tersebut menutupi pigmen klorofil.

Salah satu anggota utama dari kelompok ganggang keemasan adalah diatom. Diatom kebanyakan ditemukan di laut, meskipun beberapa di antaranya hidup di air tawar.

Dalam ekosistem perairan, diatom dapat berperan sebagai fitoplankton sehingga kehadiran mereka dapat menjadi sumber makanan dan oksigen bagi makhluk hidup heterotrof.

Perlu kamu ketahui bahwa beberapa ahli biologi ada yang menempatkan diatom pada filum tersendiri yaitu filum Bacillariophyta.

Struktur diatom sering menyerupai kotak karena dinding selnya memiliki dua katup, katup besar dan katup kecil. Katup besar (epiteka) bertindak sebagai penutup, sedangkan katup kecil (hipoteka) sebagai yang ditutup (bagian dasar). Antara bagian yang ditutup dan penutupnya terdapat suatu celah yang disebut rafe.

ganggang keemasan

Sel-sel diatom yang telah mati biasanya mengendap di dasar perairan dan membentuk tanah diatom di dasar laut. Tanah diatom banyak mengandung zat kersik (silika) yang berasal dari dinding sel diatom. Itulah sebabnya diatom sering disebut ganggang kersik.

Zat kersik dapat dimanfaatkan sebagai bahan penggosok, bahan isolasi, bahan pembuat dinamit, bahan pembuat saringan, bahan kedap suara, dan bahan pasta gigi.

Diatom dapat bereproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dilakukan dengan cara membelah diri, sedangkan reproduksi generatifnya dilakukan dengan cara peleburan dua gamet. Reproduksi vegetatif pada diatom terjadi sebagai berikut.

Mula-mula bagian katup, epitel dan hipoteka memisah dan masing-masing membawa sitoplasma. Selanjutnya bagian epiteka akan membentuk hipoteka sedangkan hipoteka berubah menjadi epiteka yang kemudian akan membentuk hipoteka baru.

Artinya, setiap produk yang berasal dari pembelahan pertama akan membentuk hipoteka sehingga menghasilkan sel anakan baru berupa kotak yang berukuran lebih kecil dari induknya.

Peristiwa tersebut berlangsung berulang kali sehingga ukuran sel diatur mencapai ukuran minimum. Jika sel diatom sudah terlalu kecil dan tidak dapat membelah lagi, maka protoplasmanya akan keluar dari dinding sel menjadi suatu badan yang disebut auksospora. Auksospora tumbuh dan jika sudah mencapai ukuran aslinya akan membentuk epiteka dan hipoteka.

Beberapa contoh diatom adalah Cyclotella dan Navicula. Contoh lain dari ganggang keemasan adalah Ochromonas, Vaucheria, dan Synura.

Ochromonas memiliki bentuk sel seperti bola dengan dua flagel yang tidak sama panjang. Di dalam sitoplasmanya terdapat sebuah nukleus, vakuola, kloroplas, dan stigma.

Kloroplas biasanya berbentuk lembaran yang melengkung. Reproduksi Ochromonas yang sudah diketahui hanya secara vegetatif yaitu dengan pembelahan sel. Ochromonas tidak banyak dikenal karena jarang ditemukan.

Vaucheria banyak ditemukan di air payau, air tawar, dan tempat-tempat yang basah. Tubuhnya berbentuk benang bercabang-cabang, tetapi tidak bersekat. Di dalam sel, inti tersebar dimana-mana.

Reproduksi vegetatif Vaucheria dilakukan dengan cara pembentukan zoospora. Bagian ujung benang akan berubah membentuk sporangium. Dalam sporangium, inti membelah secara meiosis dan menghasilkan spora berflagel banyak. Jika sporangium masak, zoosporanya memancar keluar dan dapat tumbuh menjadi Vaucheria baru jika jatuh ditempat yang sesuai.

Reproduksi generatif dilakukan dengan cara pelaporan ovum yang dihasilkan dari oogonium dengan spermatozoid yang dihasilkan oleh anteridium. Hasil peleburan tersebut membentuk zigospora yang selanjutnya akan tumbuh menjadi Vaucheria baru.

5. Filum Rhodophyta (Ganggang merah)

ganggang merah

Ganggang merah hidup di laut dalam, terutama di laut beriklim panas. Anggota kelompok ganggang merah juga dapat ditemukan di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter.

Ganggang merah multiseluler kebanyakan berbentuk lembaran sederhana dengan cabang-cabang halus seperti pita. Di dalam selnya terdapat pigmen klorofil a dan tipe pigmen lainnya yang disebut fikobilin.

Fikobilin adalah semacam pigmen yang terdiri atas fukoeritrin (pigmen merah) dan fukosianin (pigmen biru).

Melalui pigmen fukobilin, gelombang cahaya yang masuk ke dalam laut diserap, kemudian mentransfer energi cahaya ke klorofil untuk keperluan fotosintesis. Bentuk hasil dari proses fotosintesis tersebut menyerupai glikogen yang biasa disebut tepung fluridean.

Pada ganggang merah, pigmen fikoeritrin lebih dominan daripada pigmen lainnya. Pigmen tersebut dapat menutupi warna hijau dari klorofil dan warna biru dari fikosianin. Itulah sebabnya tubuh protista mirip tumbuhan ini tampak berwarna merah.

Ganggang merah dapat bereproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatifnya dilakukan dengan pembentukan spora yang tidak memiliki alat gerak.

Spora tersebut bersifat haploid yang berasal dari talus ganggang diploid. Spora dapat berpindah ke tempat lain dengan mengikuti arus air laut. Selanjutnya, di tempat yang sesuai, spora tersebut akan tumbuh menjadi ganggang baru.

Reproduksi generatif ganggang merah dilakukan dengan cara peleburan gamet jantan yang tidak memiliki alat gerak (spermatium) dan ovum. Hasil peleburan akan membentuk zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot akan tumbuh menjadi ganggang merah yang diploid.

Filum Rhodophyta

Beberapa jenis ganggang merah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, misalnya dibuat agar-agar. Di Indonesia, bahan dasar pembuatan agar-agar berasal dari Eucheuma spinosum, sedangkan di negara lain yang beriklim dingin biasa menggunakan Gelidium dan Gracilaria.

Jenis ganggang merah lainnya sering dianggap memiliki nilai komersial karena menghasilkan agar dan karagin. Agar banyak dimanfaatkan dalam ilmu mikrobiologi sebagai media untuk pertumbuhan bakteri dan jamur.

Karagen merupakan material gelatin yang sering digunakan dalam pembuatan alat kosmetik, es krim, dan bahan pembuatan kue.

Contoh ganggang merah yang dapat menghasilkan kedua macam zat tersebut adalah Chondrus crispus dan Gigartina mamilosa.

Dalam ekosistem perairan, keberadaan ganggang merah dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan batu karang. Hal tersebut dimungkinkan karena beberapa jenis ganggang merah mampu menyimpan kalsium karbonat di dalam jaringan tubuhnya.

6. Filum Chlorophyta (Ganggang hijau)

ganggang hijau

Ganggang hijau merupakan kelompok ganggang yang paling banyak ditemukan di air tawar. Sebagian kecil ganggang hijau, terutama yang berukuran besar dijumpai hidup di laut. Di perairan, ganggang hijau hidup sebagai plankton dan perifiton.

Plankton adalah makhluk hidup dalam air yang hidup melayang-layang, sedangkan perifiton adalah makhluk hidup yang menempel pada tumbuhan air.

Anggota kelompok protista mirip tumbuhan ini juga ditemukan menempel pada pohon dan hewan, di hamparan tanah yang lembap, bahkan di hamparan salju.

Dalam kehidupannya, ganggang hijau dapat bersimbiosis dengan jamur tumbuhan dan hewan. Bentuk simbiosis ganggang hijau dengan jamur membentuk suatu kehidupan yang disebut Lichen (liken).

Ganggang hijau mempunyai pigmen hijau yang terhimpun dalam kloroplas. Bentuk kloroplas bermacam-macam tergantung pada jenis ganggang hijau. Misalnya, berbentuk mangkuk (Chlamydomonas), spiral (Spirogyra), bulat (Chlorella), atau berbentuk bintang.

Pada kloroplas juga ditemukan pirenoid dan stigma. Pirenoid merupakan tempat pembentukan zat tepung (amilum), sedangkan stigma atau bintik mata (berpigmen merah) adalah bagian yang sensitif terhadap cahaya. Stigma berguna untuk menuntun ganggang ke arah cahaya sehingga fotosintesis dapat terjadi.

Ganggang hijau tidak selalu berwarna hijau karena beberapa anggotanya memiliki pigmen yang memberikan warna oranye, merah, atau warna karat (merah kehitaman).

struktur tubuh alga hijau
struktur tubuh alga hijau

Ganggang hijau memiliki struktur tubuh yang beragam. Mereka ada berupa sel uniseluler (hidup soliter atau berkoloni) dan multiseluler. Ganggang hijau menjadi penting karena leluhur ganggang hijau dipercaya sebagai asal mula semua tumbuhan darat.

Ada beberapa alasan yang mendukung hipotesis bahwa tumbuhan daratan merupakan bentuk evolusi dari leluhur ganggang hijau yaitu sebagai berikut:

  1. Ganggang hijau memiliki klorofil a dan b
  2. Ganggang hijau memiliki dinding sel berupa selulosa
  3. Ganggang hijau menyimpan makanan dalam bentuk zat tepung (amilum)

Ganggang hijau bereproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi vegetatif dilakukan dengan cara pembelahan biner, fragmentasi, atau pembentukan zoospora. Sementara itu, reproduksi generatif dilakukan dengan cara konjugasi.

Peran protista mirip tumbuhan (ganggang) dalam kehidupan

Sebagian besar ganggang dapat memberi manfaat bagi manusia. Meskipun demikian beberapa ganggang dapat mendatangkan kerugian pada manusia.

Manfaat protista mirip tumbuhan (ganggang)

Ada banyak manfaat protista mirip tumbuhan atau ganggang dalam kehidupan manusia yaitu sebagai berikut:

1. Sebagai sumber bahan makanan

Beberapa jenis ganggang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan agar-agar. Contoh ganggang demikian adalah Eucheuma spinosum, Gelidium, dan Gracilaria. Selain itu, ganggang dapat juga dimanfaatkan untuk pembuatan makanan suplemen. Misalnya, sun Chlorella yang dibuat dari jenis ganggang Chlorella sp.

2. Menghasilkan beberapa bahan dasar yang bernilai ekonomi

Beberapa protista mirip tumbuhan, seperti diatom dapat menghasilkan zat kersik. Zat kersik (silikat) berguna sebagai bahan penggosok, bahan isolasi, bahan pembuatan dinamit, dan bahan pembuatan saringan.

Sargassum, Turbinaria, dan Laminaria dapat menghasilkan asam alginat yang bermanfaat sebagai bahan pembuat cat dan es krim. Chondrus crispus dan Gigartina mamilosa dapat menghasilkan agar dan karagin. Agar sering dimanfaatkan dalam bidang mikrobiologi, sedangkan karagen berguna untuk bahan kosmetik dan makanan.

3. Penyedia makanan dan oksigen bagi kehidupan di air.

Protista mirip tumbuhan (ganggang) yang hidup sebagai plankton (fitoplankton) dapat digunakan sebagai makanan ikan sehingga produksi ikan dapat meningkat. Fitoplankton berperan sebagai produsen yang penting dalam rantai makanan.

Bahaya protista mirip tumbuhan (ganggang)

Beberapa jenis protista mirip tumbuhan dalam kehidupan memiliki jumlah berlebih yang dapat menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup lain. Bahkan beberapa jenis protista mirip tumbuhan dapat menyebabkan kematian, contohnya Red tide (pasang merah).

Red tide merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi akibat melimpahnya jumlah ganggang api di perairan. Dalam banyak kasus, adanya red tide telah menyebabkan banyak ikan mati karena keracunan.

Itu beberapa informasi mengenai beberapa jenis ganggang, yakni protista mirip tumbuhan beserta manfaat dan perannya dalam kehidupan manusia.

Jika ada hal yang ingin ditanyakan, jangan sungkan untuk menanyakannya pada kami melalui kolom komentar.

Salam sukses, Angphotorion!

Salam Angphot! Kamu bisa belajar bersama kami dalam link whatsapp Angphotorion dan Channel Telegram Angphot untuk belajar cara menanam dan merawat anggrek dan tanaman hias lain bersama sekaligus melakukan jual beli dengan aman. Kamu dapat mengajukan pertanyaan serta berkonsultasi gratis bersama kami.

Kami juga menyediakan kesempatan sebagai reseller dan mitra dalam naungan Angphotorion. Selengkapnya lihat ketentuan dalam halaman kami. Katalog anggrek, aglonema, produk makanan sehat dan hidroponik, buku, serta karya kreatif bisa kamu lihat di Katalog Angpot.