Tantangan dan Peluang Generasi Abad 21

Generasi milenial merupakan kelompok demografis (cohort) setelah ‘Generasi X’ yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000-an. Generasi milenial ini terlahir di masa teknologi yang terus berkembang pesat sehingga memperoleh kemudahan dalam melakukan berbagai aktivitas.

Ada banyak kemudahan yang dapat diperoleh karena berkembangnya teknologi, salah satunya dalam hal berbelanja. Layanan berbelanja online atau biasa kita kenal dengan istilah ‘olshop’, merupakan salah satu kemudahan yang dapat dengan mudah kita jumpai saat ini. Aktivitas yang biasanya kita lakukan secara tatap muka dengan penjualnya langsung kini dipermudah dengan kehadiran olshop.

Kemudahan tersebut ditunjang dengan keberadaan internet yang dapat di akses oleh semua kalangan. Seperti saat mencari website toko online, cukup dengan mengetik kata kunci ‘online shop’ di Google atau mengeklik tautan toko online dari sosial media, kita dapat menemukan berbagai toko dengan bermacam barang yang dijual.

Dengan adanya olshop, profesi wirausaha kini menjadi alternatif generasi milenial dalam berkarya, di mana start-up bisnis mulai bermunculan di berbagai kota.

Ketika lulus mereka tidak lagi berburu lowongan pekerjaan, tetapi berupaya mencari peluang bisnis dan menjadikan peluang bisnis itu sebagai pintu masuk ke dunia wirausaha.

Online shop menjadi sebuah fenomena yang ‘booming’ di dunia maya, dikarenakan faktor kemudahan dan kepraktisan dalam berbelanja membuat bisnis toko online ini selalu meningkat prospeknya dari tahun ke tahun.

Peluang besar untuk memperoleh keuntungan dari bisnis online shop memang cukup menjanjikan, sehingga membuat orang-orang tertarik untuk terjun dalam bisnis olshop. Mendirikan olshop juga tidak harus terikat dengan perusahaan besar, melainkan dapat dilakukan secara mandiri.

Media sosial juga dapat membantu penjual menjalin retensi atau hubungan baik dengan para pelanggannya. Akun media sosial pada saat ini juga dapat menjadikan bisnis olshop terlihat serius, nyata, kompeten, lebih profesional dan dapat dipercaya.

Baca juga: Cara Jualan Laris di Shopee

Menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Sementara jumlah pemilik toko online atau e-commerce di Indonesia mencapai 26,2 juta.

Melalui data yang didapat dari Bukalapak.com, transaksi melalui online banking memiliki penetrasi sebesar 36% dari total transaksi perbankan. Serta menurut Kemenkominfo diperkirakan pada tahun 2016 transaksi e-commerce telah mencapai 25 miliar dolar. Ini menunjukkan bahwa potensi masyarakat Indonesia untuk bertransaksi online sudah cukup kuat.

Disisi lain, trend cashless transaction memiliki pertumbuhan yang cukup baik selama lima tahun ke belakang yaitu 23%. Kedua hal tersebut menjadi sinyal yang baik untuk memulai bisnis online. Peningkatan tersebut ternyata masih belum cukup untuk bersaing jika dibandingkan dengan negara lain.

Menurut World Economic Forum (WEF) yang belum lama ini merilis peringkat daya saing (global competitiveness index) memperlihatkan posisi Indonesia mengalami penurunan.

Pada periode 2015-2016, posisi Indonesia masih berada di urutan ke-37 dari 138 negara, namun untuk periode 2016-2017 turun ke peringkat ke-41. Posisi Indonesia ini sudah sejak lama berada di bawah negara-negara serumpun seperti Singapura yang di peringkat ke-2, Malaysia ke-8 dan Thailand ke-32.

Agar dapat bersaing dengan negara lain, kita sebagai generasi milenial diharapkan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk ikut berkontribusi dan berinovasi memajukan Indonesia agar menjadi negara dengan daya saing bisnis yang mampu menyejajarkan diri dengan negara maju.

Dalam hal ini penulis memiliki inovasi untuk memanfaatkan olshop sebagai media bisnis online untuk menjual berbagai macam barang hasil kreativitas anak bangsa dari bahan daur ulang dengan konsep CE. Konsep CE bisa dikatakan berakar pada gerakan Cradle to Cradle (C2C) yang diinisiasi oleh William McDonough bersama Michael Braungart di tahun 2002.

Circular Economy yaitu penggunaan material yang didesain secara strategis untuk terus bersifat restoratif dan generatif. Di Belanda, pendekatan Circular Economy tidak hanya diimplementasikan pada plastik, tetapi juga benda lain seperti kain dan logam berat. Model ini sendiri dikembangkan berdasarkan konsep lifecycle development.

Pada prinsipnya, C2C mengembalikan proses industri dan komersial ke dalam ekosistem. Dengan demikian, bahan teknis kembali ke ekosistem industri, sementara bahan biologis kembali ke ekosistem alami.

Mimpi besar C2C adalah menutup siklus hayati sehingga tak ada lagi limbah yang dibuang. Terdapat enam perusahaan global yang beroperasi di Indonesia mengenalkan pendekatan Circular Economy untuk mengelola sampah plastik yang saat ini volumenya sangat mengkhawatirkan.

Rumah tangga perkotaan Indonesia diprediksi menghasilkan 175.000 ton sampah plastik kresek per hari. Keenam perusahaan tersebut yaitu PT Coca-Cola Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Tetra Pak Indonesia, PT Tirta Investama, dan PT Unilever Indonesia.

Keenamnya menginisiasi Circular Economy pada sektor sampah plastik yang disebut sebagai PRAISE (Packaging and Recycling Alliance for Indonesia Sustainable Environment).

Menurut Sinta Kaniawati selaku perwakilan PRAISE, selama ini kebijakan mengenai pengelolaan sampah sering kali berujung pada solusi yang tidak terintegrasi dan hanya bersifat jangka pendek. Mengurus sampah plastik memang cukup sulit karena rantai prosesnya yang panjang.

Sementara itu, berbagai negara maju dunia telah menerapkan pendekatan Circular Economy dalam penggunaan suatu material. Skema tersebut mengandalkan inovasi produk maupun sistem pengelolaannya, untuk memastikan nilai guna material tetap optimal untuk jangka waktu maksimal.

Dengan kreativitas, barang daur ulang yang biasanya dibuang dapat diolah menjadi karya bernilai seni tinggi. Sebagai contohnya, perusahaan rintisan dari San Fransisco memproduksi sepatu dari bahan daur ulang botol kemasan yang bernama Rothy’s. Bahkan, Roth Martin berujar bahwa ia tidak takut kehabisan bahan pokok karena pasokan material tidak terbatas dan baik untuk masa depan.

Di Indonesia sendiri bahkan terdapat usaha mebel dari daur ulang kayu bekas kapal yang berhasil menembus
pasar Amerika. Mebel tersebut merupakan produksi dari Cipta Graha Art yang berada di Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan.

Menurut Drg. Irianto, pemilik Cipta Graha Art, model yang disajikan tidak seperti model pada umumnya melainkan bernuansa antik, rustik dan primitif yang tentunya semakin menarik peminat dengan keunikannya tersebut. Selain Amerika, beliau juga mengekspornya ke Jerman, Taiwan, Malaysia, Cina, Saudi Arabia, Perancis, dan lain-lain.

Dalam merintis bisnis daur ulang lewat toko online, tentu kita akan menemukan berbagai macam kendala. Seperti misalnya dalam berbisnis di toko online persaingan antar penjual sangatlah tinggi.

Hal tersebut muncul disebabkan karena rata-rata penjual hanya menjual barang yang kurang memiliki keunikan dan sifat barangnya yang pasaran sehingga diperlukan strategi pemasaran yang tepat dan inovasi secara berkala, tetapi tetap bersifat low cost dalam menyediakan barang untuk dipasarkan.

Tentunya hal tersebut menjadi peluang bagi bisnis barang daur ulang yang umumnya lahir dari kreativitas dan
inovasi baru.

Selain itu, dengan masih maraknya aksi penipuan oleh toko online yang tidak bertanggungjawab juga menjadi salah satu kendalanya. Dalam hal ini kita dapat mengantisipasinya dengan membangun kepercayaan masyarakat dengan produk yang kita pasarkan.

Usahakan juga untuk memasarkan produk secara offline dan tetap menjaga kualitas barang yang dipasarkan sehingga calon pembeli memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dengan toko online yang kita rintis. Kemudian, jangkauan internet yang kurang mumpuni di daerah pelosok serta terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai bisnis online juga turut menjadi kendala bagi sebagian masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Dengan dukungan pemerintah dan sosialisasi mengenai manfaat bisnis online kepada masyarakat, tentu akan sangat membantu bagi para calon wirausaha di pedesaan dalam mendirikan bisnis online karena jangkauannya yang luas dan sifatnya yang lebih efektif dan efisien.

Pemanfaatan bahan daur ulang dengan konsep Circular Economy dapat menjadi salah satu langkah kita sebagai generasi milenial, dalam ikut berkontribusi membangun bangsa ke arah yang lebih baik.

Untuk itu dengan semangat pemuda dan pemudi Indonesia dan inovasi yang terus berkembang penulis percaya generasi milenial dapat menjadi penerus bangsa yang memajukan Indonesia agar lebih produktif dan mampu bersaing dengan negara maju lainnya.

Baca juga: Esai tentang Sampah Plastik: Pirolisis

Demikianlah yang dapat saya tuangkan dalam esai ini. Mohon maaf bila terdapat kesalahan kata atau kurang berkenan. Terima kasih.

contoh esai bisnis

Daftar Pustaka

Syam, Lia Fauziah. 2017. Menimbang Agribisnis Lokal. [online]. (http://www.riaupos.co/5342-opini-menimbang-agribisnis-lokal.html, diakses tanggal 15 Juli 2017)

Ali, Hasanuddin. Tanpa tahun. Generasi Millennial Indonesia: Tantangan dan Peluang Pemuda Indonesia. [online](http://alvara-strategic.com/generasimillennial-indonesia-tantangan-dan-peluang-pemuda-indonesia/ diakses tanggal 15 Juli 2017)

Hidayat, Feriawan. 2016. Ini Alasan Generasi Milenial Percaya Dengan Transaksi Online. [online]. (http://www.beritasatu.com/iptek/356265-ini-alasan-generasimillenial-percaya-dengan-transaksi-online.html diakses tanggal 15 Juli 2017)

Muliana, Vina A. 2017. Sepatu Ini Terbuat Dari Plastik Botol Air Kemasan Daur Ulang. [online]. (http://bisnis.liputan6.com/read/3019026/sepatu-ini-2terbuat-dariplastik-botol-air-kemasan-daur-ulang diakses tanggal 15 Juli 2017)

Bromo, Warta. 2017. Manfaatkan Daur Ulang, Mebel Probolinggo ini Tembus Amerika. [online]. (https://kumparan.com/wartabromo/manfaatkan-daur-ulangmebel-probolinggo-ini-tembus-amerika diakses tanggal 15 Juli 2017)

Azilia, Dara. 2017. Pengelolaan Sampah: 6 Perusahaan Kenalkan Pendekatan Circular Economy. [online].
(http://industri.bisnis.com/read/20170712/257/670826/pengelolaan-sampah-6-perusahaan-kenalkan-pendekatan-circular-economy diakses tanggal 15 Juli 2017)

Pambudi, Teguh. 2016. Circular Economy yang Makin Krusial. [online]. (http://teguhsripambudi.blogspot.co.id/2016/02/circular-economy-yang-makinkrusial.html diakses tanggal 15 Juli 2017)

Tanpa Nama. 2011. Kendala Bisnis Online dan Solusinya. [online]. (http://bisnisukm.com/kendala-bisnis-online-dan solusinya.html diakses tanggal 15 Juli 2017)