Pengaruh Suhu terhadap Pertumbuhan Tanaman

Ada beberapa pengaruh suhu terhadap tanaman yang mungkin sudah umum diketahui. Hal utama yang perlu diketahui bahwa suhu tidak terlepas dalam proses metabolisme tumbuhan. Namun, untuk lebih memahami bagaimana suhu memengaruhi pertumbuhan tanaman, ada beberapa analogi yang dapat dipelajari sebagai konsep.

Faktor suhu terhadap pertumbuhan tanaman

Salah satu konsep yang perlu dipahami bahwa suhu di permukaan Bumi sangat beragam sehingga tercipta sebuah istilah variasi suhu. Adanya variasi suhu di permukaan Bumi menyebabkan adanya beberapa akibat, terutama pada makhluk hidup, khususnya tanaman. Pertumbuhan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh suhu.

Suhu berbeda dengan panas. Suhu adalah ukuran derajat dari hasil pergerakan molekul yang pada umumnya dinyatakan dalam Celsius, Kelvin, maupun Fahrenheit. Sedangkan, panas umumnya dinyatakan dalam satuan watt/kalori/joule.

Pada tahap tertentu dalam daur hidup tanaman dan pada kondisi tertentu, tiap spesies atau varietas mempunyai suhu minimum, suhu optimum, dan suhu maksimum. Di bawah suhu minimum pertumbuhan, tumbuhan tidak akan tumbuh. Tumbuhan akan tumbuh optimal pada suhu optimum pertumbuhannya. Namun, tidak menutup kemungkinan beberapa spesies tumbuhan beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya (Karmila dan Andriani, 2019).

Suhu dapat memengaruhi jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman, seperti untuk proses fotosintesis, transpirasi, dan evaporasi. Selain itu, suhu juga memengaruhi kinerja enzim dan respirasi tumbuhan, serta laju penyerapan udara dan nutrisi.

Kinerja enzim sangat dipengaruhi oleh suhu karena enzim dapat bekerja optimum pada suhu tertentu, yaitu 30 derajat Celsius. Sedangkan di atas suhu 40 derajat Celsius, enzim tidak dapat bekerja optimal sebab protein pembentuk enzim mengalami denaturasi, di mana protein tidak dapat bertahan dan mudah rusak pada suhu tinggi.

Beberapa tanggapan tanaman dalam suatu uji coba menunjukkan bahwa tanaman yang ditanam di wilayah tropis memiliki laju pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan tanaman yang ditanam di wilayah dingin atau kering.

Faktor suhu dalam memengaruhi lengas tanah
Faktor suhu dalam memengaruhi lengas tanah

Suhu juga memengaruhi lengas tanah atau kelembapan yang sangat berperan dalam proses pertumbuhan tanaman. Peningkatan suhu terutama suhu tanah dan iklim mikro di sekitar tanaman akan mempercepat kehilangan lengas tanah terutama pada musim kemarau. Hal ini dapat berpengaruh buruk pada tanaman, terutama pada daerah dengan lengas tanah yang terbatas. Oleh karena itu, biasanya dilakukan pemulsaan dengan beberapa tujuan, diantaranya:

  • Mencegah evaporasi (penguapan air) dari tanah
  • Untuk meningkatkan produktivitas tanaman
  • Memberikan kestabilan agregat pada tanah dan mencegah erosi
  • Untuk menjaga unsur hara tanah.
  • Mencegah penyakit tanaman
  • Menjaga kelembapan tanah

Namun, suhu iklim global diperkirakan akan semakin tinggi seiring meningkatnya emisi gas rumah kaca. Sektor pertanian menyumbang sekitar 14% dari total emisi, sedangkan di tingkat nasional sumbangan emisi sebesar 12% (51,20 juta ton CO2) dari total emisi karbon global sebesar 436,90 juta ton, bila emisi dari degradasi hutan, kebakaran gambut, dan dari drainase lahan gambut tidak diperhitungkan (Surmaini, dkk., 2010).

Beberapa dampak positif dari perubahan iklim antara lain berupa percepatan pertumbuhan hutan (Mc. Mahon et.al, 2010), peningkatan hasil produksi pertanian di wilayah yang lebih basah di negara Brazil dan India (Mendelsohn, 2009), penurunan angka kematian oleh cuaca dingin (Vardoulakis et. al, 2014), serta peningkatan hasil perikanan di daerah yang mempunyai lokasi garis lintang tinggi dan peningkatan produksi padi di negara-negara yang mempunyai iklim panas (OECD, 2015).

Sementara itu, dampak negatifnya dapat berupa kejadian iklim ekstrem berupa banjir dan kekeringan menyebabkan tanaman yang mengalami puso semakin luas. Peningkatan permukaan air laut menyebabkan penciutan lahan sawah di daerah pesisir dan kerusakan tanaman akibat salinitas.

Menurut Loh dan Stevenson (2008), kerugian yang ditimbulkan oleh perubahan iklim mencapai 5% dari GDP global per tahun. Lebih lanjut, dampak negatif perubahan iklim bukan hanya tidak dapat dibalik (irreversible) tetapi hanya dapat diminimalkan (Lohmann, 2006). Selanjutnya, terdapat dua istilah yang berkaitan erat dengan perubahan iklim yaitu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Fokus dari program mitigasi perubahan iklim yaitu penurunan atau pengurangan emisi karbon, yang menjadi penyebab utama perubahan iklim, berdasarkan target tertentu pada sektor terpilih (OECD, 2008).

Sementara itu, fokus program mitigasi perubahan iklim terletak kepada upaya untuk mengurangi dampak yang mungkin muncul akibat perubahan iklim (OECD, 2016).

Dampak perubahan iklim yang demikian besar memerlukan upaya aktif untuk mengantisipasinya melalui strategi mitigasi dan adaptasi tersebut. Teknologi mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan pertanian melalui penggunaan varietas rendah emisi serta teknologi pengelolaan air dan lahan. Teknologi adaptasi yang dapat diterapkan meliputi penyesuaian waktu tanam, penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, rendaman dan salinitas, serta pengembangan teknologi pengelolaan air.

Referensi

Deatherage, Scott D. (2011). Carbon trading Law and Practice, Published by Oxford University Press, Inc. hlm. 18.

Karmila, Ratna; Andriani, Vivin. 2019. Pengaruh Temperatur Terhadap Kecepatan Pertumbuhan Kacang Tolo (Vigna sp.). Jurnal Stigma12(1): 49 – 53; ISSN: 1412 – 1840; e-ISSN: 2621 – 9093.

Loh, Christine and Andrew Stevenson. (2008) A Road Map for Regional Emissions Trading in Asia Asian Business & Management, Vol. 7, pg. 425–444.

McMahon, S. M., Parker, G. G. dan D. R. Miller. (2010). Evidence for a recent increase in forest growth. Proc. Natl Acad. Sci. USA 107, pg. 3611–3615

Mendelsohn, Robert. (2009). The Impact of Climate Change on Agriculture in Developing Countries. Journal o Natural Resources Policy Research. Vol. 1, No. 1. pg. 5 – 19.

OECD. (2006). Adaptation To Climate Change: Key Terms. OECD Publishing, Paris

OECD. (2008). Climate Change Mitigation, What Do We Do?. OECD Publishing, Paris

OECD. (2015), The Economic Consequences of Climate Change, OECD Publishing, Paris. http://dx.doi.org/10.1787/9789264235410-en.

Surmaini Elza, dkk. 2011. Upaya Sektor Pertanian Dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian 30 (1).

Vardoulakis S, Dear K, Hajat S, Heaviside C, Eggen B, dan AJ. McMichael (2014). Comparative assessment of the effects of climate change on heat- and cold-related mortality in the United Kingdom and Australia. Environ Health Perspect. 122 pg. 1285-1292.

Leave a Reply