Pengembangan anggrek Dendrobium di Indonesia saat ini telah mengalami kejenuhan sehingga membutuhkan upaya yang dapat memberikan ide-ide baru dalam persilangan konvensional agar diperoleh hibrida yang mampu berdaya saing di pasar global.

Namun, beberapa lembaga yang telah memiliki kewenangan untuk mengembangkan jenis-jenis anggrek persilangan telah mencoba mengembangkan spesies anggrek hybrid dari genus Dendrobium.

Persilangan dendrobium langka yang belum banyak dikembangkan

Anggrek Shenzhen Nongke, jenis dendrobium hybrid yang pernah dijual hingga $200.000

Untuk membentuk hibrida baru yang memiliki karakter unik, baru, dan berdaya saing dibutuhkan induk-induk berkualitas dan unik yang belum banyak dimanfaatkan dan memiliki karakter kuat, dan mudah diperbanyak.

Untuk memperpendek siklus pemuliaan, maka dapat digunakan salah satu induknya menggunakan hibrida yang berkualitas.

Beberapa jenis anggrek dendrobium yang sering dimanfaatkan sebagai induk spesies persilangan, misalnya Dendrobium delacorii dapat dimanfaatkan untuk membentuk hibrida mini.

Dendrobium delacourii telah dimanfaatkan sebanyak lima kali persilangan dengan delapan progeni yang dirilis. Dendrobium lain seperti Den. tobaense (Gambar 9a) untuk membentuk hibrida warna hijau, bentuk unik, lidah merah.

Den. tobaense baru dimanfaatkan sebagai induk sebanyak lima kali yang dirilis antara tahun 2001-2004 oleh personil maupun nursery di Taiwan.

persilangan anggrek dendrobium
Induk persilangan anggrek dendrobium

Dendrobium draconis (Gambar 9b) untuk membentuk hibrida warna putih dimanfaatkan sebanyak 14 kali, Dendrobium dearei sebanyak 12 kali, Dendrobium densiflorum baru satu kali, Dendrobium leporinum baru dimanfaatkan delapan kali, Dendrobium sutiknoi sembilan kali, Dendrobium spectabile 18 kali, dan Dendrobium infundibulum 17 kali.

Memperhatikan jumlah seri persilangan pada Dendrobium di atas yang masih sedikit, memberikan kesempatan untuk menggunakan spesies-spesies tersebut kembali dengan berbagai seri persilangan dengan kultivar komersial maupun spesies alam yang baru.

Baca juga: Jenis Anggrek Dendrobium dan Gambarnya

Beberapa spesies Dendrobium endemik Indonesia yang belum banyak dikenal dan dimanfaatkan antara lain Dendrobium yang ditemukan di Danau Sentarum Sumatera, seperti Dendrobium hymenopyllum, Dendrobium mutabile, Dendrobium haseltii (Agustini et al. 2012) (Gambar 10).

Jenis Dendrobium tersebut masih langka di pasar sehingga diperlukan kerja sama antara instansi yang berwenang dalam melakukan konservasi dengan instansi yang diberikan mandat melakukan pemuliaan, seperti Balai Penelitian Tanaman Hias.

Kekayaan ragam anggrek Dendrobium asal Indonesia telah banyak dimanfaatkan sejak lama untuk menghasilkan hibrida-hibrida Dendrobium yang hingga kini telah beredar di pasar domestik maupun internasional.

Sejak lama pula hasil persilangan anggrek Dendrobium dengan sumber daya genetik asal Indonesia dinikmati keuntungannya oleh pihak luar. Sementara itu, bangsa Indonesia sebagai pemilik sumber daya genetik hanya menjadi penonton dan konsumen bagi mereka.

Keadaan tersebut seharusnya memacu minat bangsa Indonesia untuk bersaing di pasar. Upaya menggali kembali dan mencari jenis baru Dendrobium spesies untuk dimanfaatkan sebagai sumber karakter potensial perlu dilakukan.

Penguatan budidaya dan inovasi tanaman hias, terutama anggrek penting dilakukan agar hasil diperoleh nanti memiliki daya saing tinggi dan memiliki ciri khas tertentu sebagai ciri pengenal anggrek Indonesia.