Di peternakan lele milik Pak Arfan di Desa Padomasan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, suasana awal musim tebar bibit menjumpai satu persoalan yang mungkin dialami banyak pembudidaya ikan lele.
Air kolamnya jernih, benih lele baru saja ditebar, dan suara cipratan air dari pompa aerasi terdengar pelan di antara barisan kolam tanah. Semua tampak sempurna, setidaknya pada minggu-minggu pertama.
Namun seiring waktu, air mulai berubah warna. Dari bening menjadi kehijauan, lalu perlahan menggelap seperti kopi yang terlalu lama didiamkan. Lele-lele yang biasanya gesit mulai malas bergerak, sesekali muncul ke permukaan mengambil udara.
Hingga suatu pagi, Pak Arfan menemukan beberapa ekor lele mengambang diam, menjadi tanda pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia sudah memastikan pakan berkualitas dan bibit unggul, tapi tetap saja hasilnya jauh dari harapan.
Masalahnya ternyata sederhana tapi krusial, tidak hanya bagaimana beli bibit ikan lele, atau cara budidaya ikan lele, tetapi juga kualitas air kolam. Banyak peternak, termasuk Pak Arfan, fokus pada pakan dan bibit, tetapi lupa bahwa air adalah habitat hidup utama ikan.
Ini alasan mengapa kualitas air sangat penting dalam budidaya ikan lele. Air yang tidak bersirkulasi dengan baik, mengandung kadar oksigen rendah, atau tercemar sisa pakan dapat menjadi penyebab utama kegagalan budidaya.
Menurut penelitian dari Agricultural Research Service USA (2020), sistem kolam dengan sirkulasi air baik mampu meningkatkan kadar oksigen hingga 30% lebih tinggi dibanding kolam statis. Inilah perbedaan yang bisa menentukan hidup dan mati bagi ikan lele.
Baca juga: 10 Tips Agar Bibit Lele Tidak Mudah Mati, Apa Saja?
Dinamika Kualitas Air di Kolam Lele
Kualitas air kolam bukan sekadar tentang kejernihan. Di balik warnanya, terdapat keseimbangan rumit antara oksigen terlarut (DO), pH, suhu, dan kandungan amonia. Ikan lele memang dikenal tangguh, tetapi mereka tetap sensitif terhadap perubahan kimia air.
Menurut Boyd & Tucker (1998) dalam jurnal Bottom Soil Quality in Ponds for Culture of Catfish, peningkatan bahan organik akibat sisa pakan dapat menurunkan kualitas air hingga memicu akumulasi amonia, yakni zat beracun yang memengaruhi pernapasan ikan.
Di kolam Pak Arfan, kadar amonia sempat diukur mencapai 0,8 mg/L—dua kali lipat dari ambang batas aman untuk ikan lele. Ini terjadi karena air tidak pernah benar-benar dikuras total; endapan sisa pakan dan kotoran ikan menumpuk di dasar kolam, menciptakan lapisan anaerob yang mengonsumsi oksigen terlarut. Hasilnya, lele stres, metabolisme melambat, dan tingkat mortalitas meningkat.
Parameter Kualitas Air yang Paling Menentukan

Kualitas air adalah napas kehidupan bagi kolam lele. Dari berbagai studi ilmiah, terdapat empat parameter utama yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan lele: kadar oksigen terlarut (DO), pH dan suhu, kandungan amonia-nitrit-nitrat, serta tingkat kekeruhan air. Masing-masing memiliki peran penting dan saling berhubungan dalam menjaga keseimbangan ekosistem kolam.
1. Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) menjadi faktor paling vital bagi metabolisme ikan lele. Kekurangan oksigen menyebabkan ikan stres, menurunkan nafsu makan, hingga menghambat pertumbuhan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Journal UNRAM, penggunaan teknologi nano-bubble aeration mampu meningkatkan kadar DO hingga 30% lebih tinggi dibanding aerasi konvensional. Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan meningkat secara signifikan.
Bagi peternak seperti Pak Arfan di Padomasan, peningkatan DO ini terasa nyata. Sebelum menerapkan sistem aerasi baru, lelenya kerap muncul ke permukaan mencari udara. Kini, dengan sistem aerasi yang efisien, ikan lebih aktif di dasar kolam dan tingkat kematian menurun hingga setengahnya. Hal ini membuktikan bahwa oksigen bukan sekadar unsur kimia, tetapi fondasi dari produktivitas budidaya.
2. pH dan Suhu
Parameter pH dan suhu bekerja layaknya pengatur ritme kehidupan ikan lele. Berdasarkan Jurnal Untan (2022), kisaran ideal pH untuk ikan lele berada di angka 6,5–8,5, sementara suhu optimal berkisar antara 26–30°C. pH yang terlalu rendah (<5) dapat menyebabkan iritasi insang dan gangguan metabolisme, sedangkan pH terlalu tinggi (>9) dapat menurunkan daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit.
Suhu juga memainkan peran besar dalam proses pencernaan dan aktivitas makan ikan. Ketika suhu air turun di bawah 25°C, metabolisme melambat dan ikan cenderung malas makan. Sebaliknya, suhu terlalu tinggi dapat menurunkan kadar oksigen dalam air.
Di kolam Pak Arfan, penggunaan shading net sederhana membantu menjaga suhu tetap stabil tanpa mengganggu sirkulasi udara, sebuah solusi murah tetapi cukup efektif yang banyak diterapkan peternak modern.
3. Amonia, Nitrit, dan Nitrat
Di balik air yang tampak tenang, sering kali tersembunyi ancaman mematikan berupa amonia (NH₃) dan turunannya, nitrit (NO₂⁻) dan nitrat (NO₃⁻). Senyawa-senyawa ini berasal dari sisa pakan dan kotoran ikan yang terurai di dasar kolam. Jika tidak dikendalikan, akumulasi amonia dapat merusak sistem pernapasan dan saraf ikan.
Menurut studi yang diterbitkan oleh Jurnal UTU (2021), penerapan sistem filter resirkulasi mampu menurunkan kadar amonia dari 2,6 mg/L menjadi 0,1 mg/L, yang berimbas pada peningkatan pertumbuhan ikan hingga rata-rata 9,48 cm panjang dan 37,15 g berat, serta tingkat kelangsungan hidup mencapai 94%. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan biofilter alami seperti batu zeolit dan bakteri nitrifikasi untuk mengubah amonia menjadi nitrat yang lebih aman.
Bagi peternak tradisional, teknologi sederhana seperti penambahan aerator dan penggantian air sebagian setiap tiga hari sudah cukup efektif untuk mencegah penumpukan amonia. Kombinasi antara biofiltrasi dan manajemen air yang baik terbukti menekan biaya sekaligus menjaga kesehatan ikan.

Beli Pakan Ikan Organik VITOMA di Official Store ANGPHOT!
4. Transparansi dan Kekeruhan
Kejernihan air bukan hanya soal estetika; ia adalah indikator penting dalam menilai keseimbangan ekosistem kolam. Air yang terlalu keruh menandakan tingginya total suspended solids (TSS), yaitu partikel tersuspensi dari lumpur, sisa pakan, dan limbah organik.
Kondisi ini dapat menghalangi penetrasi cahaya dan menghambat proses fotosintesis fitoplankton, organisme mikroskopis yang berperan penting dalam menyediakan oksigen alami di kolam.
Penelitian akuakultur di Thailand menemukan bahwa tingkat transparansi air berkorelasi negatif dengan bobot akhir ikan lele; semakin keruh air, semakin lambat pertumbuhannya. Oleh karena itu, pemantauan visual secara rutin dan penggunaan sistem saluran air yang baik sangat diperlukan untuk menjaga kondisi air tetap stabil.
Pak Arfan sendiri rutin memeriksa warna air kolamnya setiap pagi. Ketika warna berubah menjadi terlalu pekat, ia tahu bahwa waktunya mengganti sebagian air dan membersihkan dasar kolam. Dengan disiplin sederhana seperti ini, ia mampu menjaga pertumbuhan lelenya tetap optimal tanpa harus mengandalkan teknologi mahal.
Melalui keempat parameter ini, terlihat bahwa budidaya ikan lele bukan sekadar soal pakan atau bibit unggul, melainkan seni memahami keseimbangan ekosistem air. Setiap tetes air di kolam memegang peran penting, dan ketika keseimbangan itu terjaga, hasil panen bukan lagi keberuntungan, melainkan hasil dari pengetahuan dan kepedulian.
Baca juga: Ketahui Penyebab Bibit Lele Mudah Mati, Apa Saja?
Solusi dari Data dan Fakta Lapangan

Dari hasil berbagai penelitian, para ahli akuakultur merekomendasikan pergantian air secara berkala sebanyak 20–30% setiap tiga hari, untuk menjaga kestabilan kualitas air tanpa mengganggu keseimbangan biologis kolam.
Studi FAO (2019) tentang Catfish Culture in Thailand bahkan menegaskan pentingnya sistem kanal masuk (inlet) dan keluar (outlet) agar air terus bersirkulasi. Sistem ini memungkinkan air kotor keluar secara gravitasi, sementara air baru masuk untuk menggantikan.
Pak Arfan kini menerapkan sistem serupa. Ia memasang saluran keluar di titik terendah kolam agar air lama bisa mengalir keluar, serta pompa kecil untuk memastikan sirkulasi konstan. Dalam waktu dua minggu, perubahan signifikan mulai terlihat. Air kolam menjadi lebih stabil, ikan kembali aktif, dan angka kematian turun drastis.
Selain sirkulasi, beberapa penelitian menunjukkan penurunan amonia yang signifikan menggunakan zeolit atau eceng gondok sebagai media biofiltrasi (meskipun angka tepat bervariasi).
Zeolit menyerap amonia, sementara eceng gondok membantu menyaring sisa organik di permukaan air. Menurut penelitian ASEIC Korea (2023), penerapan sistem biofiltrasi sederhana dapat menurunkan kadar amonia hingga 40% dibanding kolam konvensional.
Faktor kualitas air dalam budidaya ikan lele
Kisah Pak Arfan di Jember bukan satu-satunya. Banyak peternak di Indonesia mulai menyadari bahwa air yang sehat sama pentingnya dengan pakan yang berkualitas. Dalam satu siklus panen, perbedaan antara kolam dengan manajemen air baik dan yang tidak bisa mencapai selisih produktivitas hingga 25%.
Kini, selain menjaga air, Pak Arfan juga menggunakan pakan fermentasi alami dari Vitoma, yang dikenal ramah lingkungan karena terbuat dari limbah makanan.
Pakan ini lebih mudah dicerna, menghasilkan lebih sedikit limbah organik, dan membantu menjaga kualitas air tetap jernih lebih lama. Kombinasi antara sistem sirkulasi air yang baik dan pakan berkelanjutan menjadikan budidaya lelenya lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Air kolam yang bersih bukan sekadar hasil perawatan, tapi simbol dari keseimbangan ekosistem yang terjaga. Di Padomasan, Pak Arfan kini sering menjadi rujukan bagi peternak muda lain. Ia menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus mahal, kadang hanya perlu memahami hubungan antara air, ikan, dan manusia.
Sebagaimana air yang terus mengalir menjaga kehidupan di kolamnya, semangat keberlanjutan juga mengalir melalui setiap langkah kecil yang ia ambil. Dari menjaga kualitas air hingga memilih pakan ramah lingkungan seperti Vitoma, Pak Arfan membuktikan bahwa budidaya lele yang sehat dan berkelanjutan bukan sekadar mimpi, tapi bisa menjadi kenyataan di kolam-kolam pedesaan Indonesia.
Tertarik belajar budidaya ikan air tawar modern sekaligus juga berperan sebagai penggerak mitigasi iklim? Yuk, bergabung dalam komunitas Angphot! Selengkapnya lihat ketentuan dalam halaman kami. Katalog produk pertanian inovasi dari pengelolaan food waste dan hidroponik, serta karya kreatif bisa kamu lihat di Katalog Angpot.


