Keanekaragaman Hayati di Indonesia, Sumber Kehidupan yang Harus Dilestarikan.

Keanekaragaman hayati di Indonesia

Pada tahun 2009, Cecep Kusuma, et al. telah meneliti Avicenia atau lebih dikenal sebagai tumbuhan Mangrove, yang kerap kali dikaitkan dengan seorang filsuf, dokter, dan ilmuwan yang bernama Ibnu Sina.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa bagian-bagian Avicenia, mulai dari biji dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dengan kandungan 10,8% protein dan 21,4% karbohidrat.

Buah Mangrove juga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk olahan, seperti kue nastar dan putri salju. Selain itu, di Desa Wonorejo, Kota Surabaya, Mangrove (jenis bogem; Sonneratia alba) dimanfaatkan menjadi sirup yang digagas oleh Soni Mohson.

Di Rembang, ada sekelompok tani Mangrove yang memanfaatkan jenis Mangrove api-api sebagai kripik, emping, dan klepon. Mohson mengatakan bahwa, pemanfaatan Mangrove itu tergantung daerahnya.

Krisis mangrove mengancam biodiversitas

Mangrove yang dikenal publik sebagai tanaman penahan abrasi pantai, ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan. Hal ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan keragaman hayati yang ada, akan tetapi informasi mengenai hal itu masih belum merata.

Seharusnya hal demikian harus sudah diketahui oleh masyarakat, sehingga pemanfaatannya dapat lebih efisien dan produktif. Akan tetapi karena keterbatasan sosialisasi dan informasi, hal ini menjadi tidak tersampaikan.

Hanya beberapa komunitas masyarakat yang mampu dan mengerti dengan baik pemanfaatan sumber keragaman hayati yang ada di sekitarnya.

Permasalahan yang menjadi ancaman utama keanekaragaman hayati (biodiversity) dipaparkan pula dalam laporan bertajuk Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019 oleh IPBES bahwasanya status keanekaragaman hayati di bumi rentan untuk keberlangsungan kehidupan jangka panjang.

Laporan yang disintesis dari 15.000 kajian dari seluruh dunia oleh 145 ilmuwan dari 50 negara tiga tahun terakhir, mengungkapkan bahwa bumi kehilangan 80% biomassa hewan menyusui yang disebabkan terjadinya perusakan ekosistem alami pada laju hingga ratusan kali lebih cepat dalam 10 juta tahun terakhir (Mongabay.co.id).***

Keanekaragaman hayati

Kita pasti pernah mengamati setiap makhluk hidup di alam. Tiap-tiap makhluk hidup pasti memiliki ciri dan tempat hidup yang berbeda.

Kita bisa membedakan satu dengan yang lain melalui pengamatan eksternal, misalnya bentuk tubuh, ukuran, warna kulit, tempat hidup, tingkah laku, bentuk interaksi, cara bereproduksi, jenis makanan, dan sebagainya.

Pada akhirnya, sebuah gambaran umum dapat kita simpulkan bahwasanya ada keragaman diantara makhluk hidup tersebut. Keberagaman itulah, yang kita kenal sebagai keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Biodiversitas mencakup semua kehidupan mulai dari tingkat kehidupan gen, spesies tumbuhan dan hewan, mikroorganisme, ekosistem, dan proses-proses ekologi yang ada di bumi.

Beberapa fakta yang disajikan sebelumnya, merupakan salah satu pemanfaatan sumber daya hayati di Indonesia yang masih belum dikenal luas dalam lapisan masyarakat.

Berbagai ancaman pun sejak lama telah menghantui keragaman hayati, tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia yang menimbulkan erosi dan distabilitas ragam hayati dalam ekosistem dan biomassa.

Kehilangan salah satu komponen dalam lingkungan biomassa, maka akan berdampak secara berantai terhadap beberapa masalah lain yang secara langsung berhubungan layaknya rantai makanan. Di samping pemanfaatan dan peran sumber hayati ini bagi keberlangsungan hidup manusia, sumber daya hayati ini juga perlu dijaga.

Tidak seharusnya hanya dieksploitasi besar-besaran, tetapi sudah harus dilestarikan!

?Angphotorion?

Keanekaragaman hayati di Indonesia

Keanekaragaman hayati yang terdapat di sabana Indonesia Timur
Keanekaragaman hayati yang terdapat di sabana Indonesia Timur

Kepulauan Indonesia yang membentang sejauh 5.200 km di sepanjang garis khatulistiwa, membuat negara ini beriklim tropis.

Letak Indonesia yang stategis berada di antara dua daratan dengan biogeografis yang berbeda (Benua Asia dan Australia) sangat berpengaruh terhadap keberagaman makhluk hidup yang dimilikinya.

Banyak jenis tumbuhan dan hewan Indonesia yang dipengaruhi oleh geografis Asia dan Australia. Sekitar 50% sampai 90% dari keseluruhan kekayaan flora dan fauna di dunia terdapat di hutan tropis.

Indonesia yang termasuk salah satu negara tropis, memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan walaupun daratannya hanya 1,3% dari seluruh daratan di bumi.

Keragaman hayati Indonesia yang heterogen menjadikannya cukup luar biasa, yakni 10% dari seluruh spesies berbunga di dunia, 12% dari seluruh spesies mamalia dunia, 16% seluruh spesies reptilia dan amfibi dunia, 17% spesies burung dunia, dan 25% spesies ikan yang telah dikenal manusia.

Indonesia yang menjadi salah satu pusat keragaman hayati terkaya di dunia menjadikannya dijuluki “Negara Mega Biodiversity”. Hampir 40.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis monera berada di Indonesia.

Setiap tahunnya, sekitar 7.000 sampai 10.000 spesies baru ditemukan dan umumnya berupa serangga, yang mana sebagian besar berasal dari hutan hujan tropis.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara dengan kekayaan hayati tertinggi di dunia, yaitu Brazil.

Keanekaragaman flora di Indonesia

Flora di Indonesia termasuk dalam kawasan Flora Malesiana, yakni suatu kawasan botani dunia yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua New Guini, dan Kepulauan Solomon.

Persebaran jenis tumbuhan di Indonesia tidaklah merata, tetapi sangat beraga,. Hutan hujan tropis Kalimantan merupakan daerah yang mempunyai keanekaragaman tumbuhan paling tinggi di dunia, selain Sumatra dan Papua.

Di kawasan Malesiana, termasuk Indonesia, terdapat beberapa jenis tumbuhan yang khas, contohnya sebagai berikut:

  1. Pohon Kayu Ramin (Gonystylus bancanus) yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Maluku.
  2. Meranti Rawa (Shore spp.)
  3. Keruing Rawa (Dipterocarpus spp.)
  4. Beberapa tumbuhan memanjat (liana) di Kalimantan.

Selain itu, banyak pula ditemukan jenis tumbuhan lain seperti durian (Durio zibetinus), mangga (Mangifera indica), dan sukun (Artocarpus spp.) yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Keanekaragaman fauna di Indonesia

Persebaran fauna di Indonesia juga tidak merata. Pada awalnya Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografis dibatasi garis Wallace, yang memisahkan wilayah Oriental (Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia yang meliputi Papua dan pulau di sekitarnya.

Pembagian keanekaragaman fauna di Indonesia

1. Fauna daerah oriental

Jenis-jenis hewan yang tersebar di kawasan barat Indonesia yang meliputi Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Ciri khas hewan yang terdapat di kawasan barat Indonesia dipengaruhi oleh daerah geografis Asia (Oriental).

Ciri-ciri hewan daerah oriental yang terdapar di kawasan barat Indonesia:

  1. Mamalia berukuran besar
  2. Memiliki banyak jenis hewan primata
  3. Warna bulu burung kurang menarik dan tidak beragam. Contohnya burung rangkong (Rhinoplax vigil), murai (Myophoneus sp).

Contoh hewan atau fauna daerah oriental adalah gajah (Elephas maximus), bekantan (Nasapis larvatus), orang utan (Pongo pygmaeus-abelii), dan burung-burung dengan warna kurang menarik, tetapi dapat berkicau; jalak bali (Leucopsar rothschildi), elang jawa, murai mengilap (Myophoneus melurunus).

2. Fauna daerah Australia

Jenis-jenis hewan yang terdapat di kawasan timur Indonesia kebanyakan dipengaruhi oleh daerah geografis Australia. Tersebar di wilaya Indonesia timur yang meliputi wilayah Papua dan pulau di sekitarnya.

Ciri khas dari hewan-hewan daerah Australia:

  1. Mamalia berukuran lebih kecil
  2. Memiliki mamalia berkantong
  3. Tidak ada primata
  4. Warna bulu burung lebih mearik dan beragam

Contoh hewan daerah Australia adalah komodo (Varanus komodoensis), babirusa (Babyroussa babyrussa), kanguru pohon (Dendrogalus ursinus), burung cenderawasih (Paradisaea minor), burung kasuari (Casuarius casuarius) .

3. Fauna peralihan

Berbeda dua kawasan sebelumnya, di daerah peralgian atau transisi Oriental-Australia terdapat hewan-hewan dengan ciri khas yang tidak terdapat di kawasan Barat dan Timur Indonesia. Hewan-hewan peralihan terdapat di daerah Sulawesi sampai Nusa Tenggara.

Beberapa contoh hewan yang termasuk fauna peralihan adalah anoa daratan (Pendrogalus inustus), maleo (Macrocephalon maleo), dan rangkong sulawesi (Aceros cassidia).

Pemanfaatan dan keunikan keragaman hayati di Indonesia

Keanekaragaman hayati telah memberikan manfaat tersendiri bagi masyarakat Indonesia, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya.

Berbagai jenis flora dan fauna yang terdapat di wilayah Indonesia merupakan sumber daya alam hayati yang dapat diperbarui dan dimanfaatkan secara berkelanjutkan dengan syarat tidak dieksplotasi secara besar-besaran.

Beberapa bentuk pemanfaatan sumber data alam hayati disajikan sebagai berikut:

ManfaatKeterangan
(Sumber Kayu)
Tumbuhan Jati (Tectona grandis)
Mahoni (Swietenia mahagoni)
Meranti (hore asp.) dan lain-lain.
(Sumber Obat dan Kosmetika)
Kina (Cinchona succirubra)
Minyak kayu putih (Eucalyptus sp.)
golongan Zingiberaceae (Jahe, kencur, dsb.)
Ganggang (Spyrulina sp, Gracilaria sp., dll)
(Sumber Pangan)
Gandum (Triticum estivum)
Padi (Oryza sativa)
Kedelai (Glycine max)
Kacang tanah (Arachis hypogea)
Kubis (Brassica oleracea)
Pepaya (Carica papaya), dll.

Selain tersebut dalam tabel yang dijabarkan secara umum, Indonesia juga menyimpan berbagai rahasia dalam kekayaan alamnya.

Berbagai spesies unik semua ada di Indonesia, mulai dari dunia fungi, algae, hewan, dan beberapa spesies tumbuhan tingkat tinggi, bahkan terumbu karang dan biosistem laut.

Letak geografis Indonesia yang menguntungkan menjadikan negara ini menjadi penyumbang sebagian besar keragaman hayati dunia.

heimioporus sp
Jamur terlangka dan termahal di dunia

Misal, jamur yang disebut Indonesia Truffles, atau nama lokalnya Kulat Pelawat, disebut sebagai jamur unik dan termahal di dunia.

Keberadaan jamur ini yang khas Indonesia sebab hanya tumbuh di Pulau Bangka.

Baca juga: Anggrek terlangka dan termahal di Dunia

Dilansir dari berbagai media, keunikan jamur ini ialah hanya dapat tumbuh ketika ada petir bersamaan dengan turunnya hujan, serta harus ada musim kemarau selama tiga bulan dan dan hujan selama seminggu.

Kemudian, ada tanaman unik berukuran raksasa dengan bau busuk yang khas dan mungkin sudah umum kenal oleh masyarakat. Bunga Rafflesia arnoldi, sebutan untuk bunga endemik Indonesia yang sering salah disebut sebagai bunga bangkai raksasa.

Padahal bunga bangkai (Amorphophallus titanium) adalah jenis yang berbeda dengan Rafflesia. Rafflesia memiliki bentuk bunga yang melebar dan merupakan tumbuhan endoparasit, sedangkan bunga bangkai raksasa memiliki bunga tinggi memanjang dan seutuhnya berkembang dari umbi.

Bunga bangkai raksasa
Bunga Bangkai Raksasa

Bunga Rafflesia arnoldi
Bunga Rafflesia


Selain Bunga bangkai, ada pula Bunga Edelweiss Jawa. Bunga yang dikenal tidak bisa membusuk meskipun dipetik ini juga menjadi ikon tersendiri di Indonesia.

Johannesteijsmannia altifrons
Johannesteijsmannia altifrons

Tidak kalah pula uniknya, tumbuhan daun payung (Johannesteijsmannia altifrons) yang mana memiliki daun besar, lebar, kuat, dan sering tumbuh di daerah Sumatra dan dijadikan dinding atap rumah.

Diketahui terdapat 537 spesies karang atau 70% dari seluruh spesies karang yang diketahui dunia ada di Indonesia, tepatnya di Raja Ampat. Surga tersembunyi ini menyimpan berbagai keragaman hayati, khususnya biota laut yang sangat menawan.

Luas DPL 2.179, 9 Ha yang terdiri dari 39 kampung ini dikelola sebagai daerah perlindungan laut. Spesies laut yang beragam, seperti hiu kalabia, pari manta, ketam kalapa, dan lain-lain menjadikan Raja Ampat sebagai peringkat kedua untuk snorkeling dunia yang berpusat di Pulau Koflau, Misool, Waigeo Selatan dan Barat, serta Pulau Ayau.  

Indonesia sebagai negara yang dikenal dengan keragaman hayati yang tinggi, termasuk plasma nutfah pada taraf spesies, sebagian telah dimanfaatkan secara nyata, namun keberadaannya masih sangat terbatas.

Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk melindungi dan melestarikan kekayaan hayati Indonesia guna meningkatkan kesejahteraan manusia dalam jangka panjang.

Akan tetapi, hal ini masih menuai hambatan sebab beberapa pro dan kontra pada pelaksanaan program yang menjadi tugas pemerintah sebab keterbatasan dalam penyebaran informasi terkait hal tersebut.

Padahal, hal itu sudah seharusnya menjadi kewajiban seluruh segmen dalam masyarakat dan negara. Mengingat pula, pola kehidupan masyarakat Indonesia yang masih cenderung bergantung pada alam, serta pemanfaatan keragaman hayati secara ekonomi yang masih berorientasi pada keuntungan besar tanpa memerhatikan dampak terhadap kerusakan lingkungan.

Problematika krisis keanekaragaman hayati

Krisis keanekaragaman hayati
Kebakaran hutan untuk pembukaan lahan

Bagaimana realitas yang ada mengenai krisis keanekaragaman hayati? Bisa diamati bahwa keanekaragaman hayati baik ekosistem terestial maupun akuatik terus mengalami kemerosotan.

Hutan tropis di Indonesia sebagai salah satu gudang kekayaan hayati dunia telah menyusut, lahan pertanian semakin terdegradasi, terumbu karang, mangrove, dan kehidupan laut terus mengalami kerusakan.

Hal itu diperkuat dengan adanya angka kepunahan spesies yang diperkirakan seperempat dari 30 juta spesies hewan dan tumbuhan pada tahun 2000. The Red Data Book of IUCN dan ICBP, menyatakan bahwa 126 burung, 63 mamalia, 21 reptilia, 65 spesies hewan Indonesia lainnya terancam punah.

Data lain menyebutkan yang tersisa 187 jenis mamalia endemik (37,4%) dari 500 jenis, 144 jenis reptilia endemis (7,2%) dari 2000 jenis, 121 jenis kupu-kupu endemis (44%) dari 53 jenis, dan 162 burung endemis (10,8%) dari 1500 jenis.

Selain itu, salah satu permasalahan yang terus menggerus keragaman hayati saat ini yakni penyeragaman varietas tanaman maupun ras hewan budidaya yang menimbulkan erosi genetik sehingga menyebabkan krisis keanekaragaman hayati.

Dari segi ekonomis dan efisiensi, penyeragaman memang dianggap penting. Namun hal ini menimbulkan dampak negatif terhadap keaneka ragaman hayati, menggusur varietas tradisional yang digunakan sebagai bahan baku pemuliaan hewan maupun tanaman, sehingga menjadi langka. Penyeragaman juga mengakibatkan tanaman dan hewan rentan terhadap penyakit.

Contoh kasus sederhana mengenai hal tersebut yaitu terjadi pada tahun 1966. Saat itu, International Rice Research Institute (IRRI) memperkenalkan sebuah varietas padi IR8, yang dengan cepat ditanam di seluruh Asia.

Akan tetapi, pada tahun 1968 dan 1969, padi tersebut diserang penyakit bakteri dan sangat rentan oleh berbagai jenis serangga dan penyakit.

Pada 1970 dan 1971, padi jenis tersebut diserang wabah penyakit tropik lain yang disebut tungro. Para petani di Indonesia harus kehilangan setengah juta hektar padi varietas revolusi hijau akibat serangan belalang daun.

Tahun 1977, IR-36 dikembangkan agar resisten terhadap jenis serangga dan penyakit, khususnya bakteri dan tungro. Ternyata justru terserang oleh dua virus baru yang disebut ragged stunt dan wilted stunt.

Adanya erosi keragaman benih baru menjadi sarana memperkenalkan dan membantu penyebaran serangga (Kuswanto, 2006).

Apabila erosi keragaman hayati ini terjadi terus-menerus, maka akan menimbulkan dampak sosial dan ekologi serius. Tanpa adanya keberagaman hayati, stabilitas sosial dan ekologi akan terguncang dan mudah rusak.

Saat ini, keragaman masih dianggap sebagai in-efisiensi dan primitif, berlawanan dengan keseragaman yang dianggap modern dan lebih unggul sebagai komoditas yang bernilai tinggi. Pandangan inilah yang seharusnya diubah dari dogma yang melekat pada masyarakat modern.

Selain itu, ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati daripada penebangan hutan di abad ini ialah pemanasan global. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan suhu bumi sekitar 2 oC dalam waktu 50 tahun dapat memusnahkan puluhan ribu spesies hewan dan tumbuhan di bumi, bahkan di tempat terpencil yang jauh dari aktivitas manusia.

Iklim yang tidak menentu diperkirakan dapat mengancam keanekaragaman hayati yang berdampak pada usaha konservasi jangka panjang. Untuk itulah, upaya-upaya pelestarian keanekaragaman hayati perlu lebih ditegakkan guna menunjang kehidupan manusia.

Seluruh segmen kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari peran keanekaragaman hayati yang menyediakan berbagai manfaat yang diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia.

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati

Keragamanan hayati Indonesia yang tergolong tinggi tetap harus dikontrol pemanfaatannya. Eksploitasi flora dan fauna yang berlebihan akan berdampak pada punahnya jenis spesies tersebut.

Untuk itu, merakit varietas unggul diperlukan untuk membangun keanekaragaman plasma nutfah. Plasma nutfah ialah bahan dasar untuk varietas unggul yang mempunyai sifat produktivitas tinggi, tahan hama dan penyakit, serta sesuai mutunya dengan selera masyarakat.

Upaya pelestarian plasma nutfah harus terus dilakukan. Erosi keberagaman benih baru, mengakibatkan penyebaran serangga. Upaya yang dapat dilakukan adalah rotasi tanaman yang dapat membantu mengendalikan serangga karena banyak serangga bersifat spesifik pada tanaman tertentu.

Selain itu, menanam tanaman pertanian pada musim yang berbeda dan tahun yang berbeda menyebabkan populasi serangga menurun. Perlu diingat, varietas asli atau tradisional lebih tahan pada penyakit dan serangga lokal.

Kemungkinan beberapa galur terjangkit penyakit tertentu, tetapi yang lainnya memiliki ketahanan untuk tetap hidup.Hak atas keragaman hayati adalah hak kedaulatan setiap negara.

Pemerintah, industri, dan ilmuwan Indonesia harus tetap menghargai pengetahuan serta mengakui peran masyarakat asli dari berbagai suku atas sumbangan mereka terhadap pelestarian plasma nutfah dengan memberikan beberapa apresiasi.

Pengawasan dan penerapan hukum oleh aparat pemerintah harus lebih kuat sehingga penjarahan plasma nutfah tidak terjadi. Menurut Herwasono Soedjito, biolog dari LIPI, koleksi plasma nutfah mangga Indonesia justru berada di Puerto Rico, tanpa diketahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi.

Inilah salah satu permasalahan apabila pemerintah dan hukum tidak tegas mengambil tindakan terkait undang-undang keragaman hayati.

Upaya penyelamatan keragaman hayati sebenarnya sudah banyak dilakukan, tetapi masih banyak hambatan yang harus dikaji kembali. Kesadaran masyarakat akan keanekaragaman hayati yang masih terbatas, serta terbatasnya wawasan pemerintahan daerah dalam pemanfaatan ragam hayati sebagai sumber pendapatan daerah juga perlu dicari sebuah jalan keluar.

Salah satu upaya yang dapat dikembangkan untuk mengatasi hal ini adalah dengan merambah beberapa institusi pendidikan.

Menurut Titiek (2009), institusi pendidikan merupakan tempat terbaik dan strategis untuk menanamkan dan menyebarkan nilai-nilai pendidikan, khususnya dalam hal ini pelestarian keragaman hayati.

Bentuk pendidikan ini, tidak hanya terbatas teori namun diupayakan juga berupa praktikal sehingga generus bangsa dapat mengetahui secara langsung peran dalam pelestarian dan pelaksanaannya di lapangan. 

Dengan memiliki bekal sejak dini mengenai pentingnya keanekaragaman hayati dan pelestariannya, maka di masa depan kita dapat memercayai mereka dalam upaya kelestarian ragam hayati jangka panjang.

Sebagai tindak lanjut dalam mengatasi kerusakan keanekaragaman hayati, diperlukan pula ilmu pengetahuan dan teknologi, kebijakan-kebijakan maupun perangkat hukum dengan cara identifikasi dan inventarisasi keragaman dalam hal sebaran, keberadaan, pemanfaatan, dan system pengolahannya.

Upaya yang telah dilakukan secara praktis mendorong suksesi ekologis untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang heterogen, yakni dengan membentuk cagar alam, melestarikan plasma nutfah, rotasi lahan dan tanaman, serta sosialisasi mengenai pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati.

Hentikan krisis keanekaragaman hayati

Oleh karena itu, dunia menetapkan 22 Mei sebagai Hari Keanekaragaman Hayati. Sebuah perayaan yang dimaksudkan sebagai refleksi dan menggugah kesadaran masyarakat dunia mengenai pentingnya keragaman hayati.

Mengingat semakin rentannya ancaman terhadap keanekaragam hayati, maka hari peringatan keanekaragaman hayati ini merupakan salah satu sarana yang tepat untuk mensosialisasikan mengenai pentingnya melestarikan ragam hayati.

Dan untuk menyukseskannya, mari kita promosikan kiat-kiat pentingnya pelestarian dan cara pemanfaatan yang tepat dari keanekaragaman hayati yang lebih bertanggung jawab dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Leave a Reply