Pakan Ikan dari Bungkil Sawit sebagai Alternatif Pengganti Tepung Ikan

pakan ikan

Upaya mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan terus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Hal ini dikarenakan harga tepung ikan yang tinggi dan sebagian besar masih harus diimpor.

Di sisi lain, kebutuhan pakan ikan terus meningkat seiring dengan berkembangnya sektor perikanan budidaya, terutama di daerah seperti Provinsi Riau, yang merupakan sentra penghasil ikan patin terbesar di Indonesia.

Pemanfaatan Bungkil Sawit (PKM) sebagai Alternatif

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melihat potensi besar dalam pemanfaatan bungkil kelapa sawit atau Palm Kernel Meal (PKM) sebagai pengganti tepung ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan bahwa ketersediaan PKM di Provinsi Riau masih sangat melimpah, bahkan Indonesia merupakan produsen terbesar kedua di dunia setelah Malaysia.

PKM merupakan produk sampingan dari industri minyak kelapa sawit dan mengandung protein yang dapat menggantikan protein dari tepung ikan dalam formulasi pakan ikan.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa PKM dapat langsung digunakan sebagai bahan baku pakan tanpa melalui proses maggot terlebih dahulu.

Riau sebagai Percontohan Nasional

pakan ikan mandiri
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto di Pabrik pakan ikan mandiri di Riau (foto: Mongabay)

Riau dipilih sebagai provinsi percontohan untuk penggunaan PKM dalam pakan ikan. Salah satu kabupaten yang menjadi fokus adalah Kabupaten Kampar, yang merupakan sentra produksi ikan patin nasional.

KKP menargetkan penyediaan bahan baku PKM yang kontinu melalui kerja sama dengan perusahaan pengolah sawit di daerah tersebut.

Untuk mendukung implementasi ini, Slamet Soebjakto mendorong pemerintah daerah agar mengeluarkan edaran kepada perusahaan pengolah sawit di Riau, terutama mengalokasikan sebagian PKM mereka sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR). Dengan demikian, koperasi pakan mandiri dapat memperoleh suplai bahan baku secara berkelanjutan.

Baca juga: Perbandingan Kualitas Pakan Ikan Vitoma vs. Produk Konvensional

Kandungan Gizi dan Manfaat PKM

Hasil penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa PKM memiliki kandungan protein antara 15-18 persen, kadar lemak 9,5 persen, serat kasar 25,19 persen, serta rasio Ca:P sebesar 1:2,4.

Selain itu, PKM juga mengandung 10 jenis asam amino esensial serta trace mineral mangan (Mn) yang baik untuk pertumbuhan ikan.

Uji coba menunjukkan bahwa penggunaan PKM sebesar 8 persen dalam pakan ikan dapat menghasilkan pertumbuhan optimal, terutama pada ikan lele.

Peluang tersebut merupakan kesempatan besar bagi industri perikanan budidaya untuk mengadopsi bahan baku lokal sebagai alternatif yang lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan tepung ikan.

Dukungan Industri dan Regulasi

mesin cetak pelet ikan min
Alat pengolahan pakan ikan di Industri Mandiri Riau (Foto: Mongabay)

Ketua Asosiasi Pakan Mandiri Nasional, Syafruddin, menyebut bahwa penggunaan PKM sawit dalam pakan mandiri telah menjadi alternatif utama dalam pemenuhan kebutuhan protein nabati.

Saat ini, kebutuhan PKM sawit di Kabupaten Kampar mencapai 33 ton per hari, dengan sebagian besar suplai berasal dari kerja sama dengan Sinar Mas Group.

Untuk mendukung transisi ini, Syafruddin mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan regulasi yang mengharuskan perusahaan pengolah sawit mengalokasikan 10 persen produksi PKM mereka untuk kebutuhan pakan ikan. Langkah ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan bahan baku secara lokal, tanpa harus bergantung pada ekspor.

Screenshot 2025 02 08 203058

Beli Pakan Ikan Organik VITOMA di Official Store ANGPHOT!

Gerakan Pakan Mandiri dan Penguatan Logistik

Selain memanfaatkan PKM sawit, KKP juga terus mengembangkan gerakan pakan mandiri (Gerpari) sejak tahun 2015. Program ini bertujuan untuk mendorong produksi pakan ikan berbasis bahan baku lokal dan meningkatkan kemandirian pembudidaya ikan, terutama skala kecil.

Namun, masih ada tantangan yang dihadapi, seperti akses bahan baku yang tidak selalu tersedia secara kontinu. Untuk mengatasi hal ini, KKP berencana memperbaiki sistem logistik pakan dengan memetakan sumber bahan baku dan menghubungkannya dengan koperasi pakan mandiri di daerah produksi ikan.

Idealnya, setiap sentra budidaya memiliki kelompok khusus penyedia bahan baku yang dapat bermitra langsung dengan produsen pakan mandiri.

Baca juga: 15 Media Tanam Anggrek yang Cocok dan Mudah Digunakan

Keberhasilan Produksi Pakan Mandiri

produksi pakan ikan dari bungkil sawit

Saat ini, pakan mandiri berbahan baku lokal mulai mendapatkan tempat di pasar. Di berbagai daerah, muncul berbagai merek pakan mandiri yang mampu bersaing dengan pakan pabrik.

Contohnya, di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kelompok Pokanri Pottotau telah berhasil memproduksi pakan mandiri “Barakka 557” dengan kualitas yang setara dengan pakan komersial.

Selain itu, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara juga berhasil menciptakan pakan mandiri berkualitas tinggi. Produk ini telah digunakan oleh pembudidaya di Boyolali, Jawa Tengah, dengan tingkat efisiensi pakan (FCR) mencapai 1,1 persen.

Kesimpulan

Pemanfaatan PKM sawit sebagai bahan baku pakan ikan merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan yang mahal dan diimpor.

Dengan potensi ketersediaan PKM yang melimpah di Indonesia, terutama di Riau, penggunaan bahan baku lokal ini dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing industri perikanan budidaya.

Dukungan dari pemerintah daerah, perusahaan pengolah sawit, serta regulasi yang mendukung alokasi PKM untuk pakan ikan sangat diperlukan agar program ini dapat berjalan sukses.

Dengan semakin berkembangnya gerakan pakan mandiri, diharapkan para pembudidaya ikan, khususnya skala kecil, dapat memperoleh pakan berkualitas dengan harga lebih terjangkau, sehingga industri perikanan budidaya di Indonesia semakin maju dan berkelanjutan.

Facebook Comments Box
Scroll to Top