Pakan menjadi salah satu faktor paling penting dalam budidaya ikan, mulai dari kesehatan hingga pertumbuhan. Biaya pakan bahkan dapat mencapai 60-70% dari total biaya budidaya, sebagaimana dilansir dari Diotraining.
Karena tingginya biaya pakan ikan, para pembudidaya mulai mencari alternatif pakan yang lebih efisien, salah satunya dengan membuat pakan sendiri menggunakan bahan baku lokal.
Setidaknya, terdapat dua jenis pakan ikan yang bisa dibuat secara mandiri, yakni pakan ikan fermentasi dan pakan ikan konvensional.
Untuk mengetahui mana yang lebih baik untuk budidaya ikan kamu, ketahui 8 hal berikut ini terkait pakan ikan fermentasi dan pakan ikan konvensional.
Proses Produksi

Dilansir dari Gramedia, pakan ikan fermentasi tentunya melibatkan proses fermentasi. Proses ini mengubah komposisi bahan baku menjadi bentuk yang lebih mudah dicerna dan bermanfaat bagi sistem pencernaan ikan.
Namun, pakan ini membutuhkan waktu produksi yang lebih panjang karena prosesnya yang lama. Selain itu, juga harus membutuhkan starter atau bibit mikroorganisme seperti bakteri, ragi, hingga jamur.
Sementara pakan ikan konvensional, hanya menggunakan formulasi bahan baku yang lebih sederhana. Selain itu, waktu produksinya lebih cepat karena langsung diolah dan dicetak.
Kandungan Nutrisi

Pakan ikan fermentasi menggunakan mikroorganisme untuk mengurai bahan baku, sehingga meningkatkan kandungan protein, asam amino, vitamin, dan mineral, yang dibutuhkan ikan.
Sementara itu dari Aquatec, pada beberapa formulasi bahan baku pakan ikan konvensional, kandungan serat kasar dan zat anti nutrisi dapat lebih tinggi dibanding pakan ikan fermentasi, sehingga kecernaannya berpotensi lebih rendah.
Baca juga: Fish Meal: Rahasia Nutrisi di Balik Pakan Berkualitas Tinggi
Efek pada Pencernaan dan Pertumbuhan

Menurut Centra Bio Tech Indonesia, pakan ikan hasil fermentasi, cenderung menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat karena teksturnya lebih lunak dan mudah dicerna. Kandungan bakteri mikroba di dalamnya juga bermanfaat menjaga kesehatan pencernaan ikan.
Di sisi lain, karena bahan baku pada pakan ikan konvensional memiliki kandungan serat tinggi, sehingga umumnya membutuhkan waktu untuk mencerna lebih lama, yang berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan ikan.
Biaya Produksi

Baik Pakan ikan fermentasi maupun konvensional dapat dibuat dari bahan baku lokal, sehingga biaya pembuatan pakan lebih terjangkau dibanding membeli pakan ikan komersial.
Namun, pakan ikan fermentasi cenderung menghasilkan nutrisi seperti protein dan vitamin yang lebih mudah diserap, sehingga membantu meningkatkan konversi pakan (feed conversion ratio/FCR) dan mempercepat pertumbuhan.
Artinya biaya pakan per-unit pertumbuhan berpotensi lebih rendah dibandingkan pakan ikan konvensional.
Baca juga: 5 Cara Membuat Pakan Ikan Sendiri Dengan Biaya Hemat & Pasti Cuan
Kualitas Air

Melalui Centra Bio Tech Indonesia, menyebutkan bahwa pakan yang lebih mudah dicerna berpotensi mengurangi jumlah sisa pakan dan limbah organik yang dihasilkan, sehingga kualitas air lebih mudah dijaga.
Karena tekstur pakan ikan fermentasi lebih lunak dan tidak mudah larut dalam air, pakan ini umumnya menghasilkan residu yang lebih sedikit.
Sebaliknya, pakan ikan konvensional dengan kandungan serat kasar yang tinggi, cenderung lebih sulit dicerna. Hal ini berpotensi menyisakan lebih banyak residu dan memengaruhi kejernihan air jika tidak dikelola dengan baik.
Dampak Lingkungan

Dilansir dari Gramedia, karena kedua pakan ini menggunakan bahan baku lokal seperti sisa limbah organik, turut membantu mengelola limbah tersebut dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, sekaligus mengurangi penumpukan limbah organik di TPA yang berpotensi menghasilkan gas metana dan memperburuk lingkungan sekitar.
Meski begitu, dari sisi kotoran, pakan ikan fermentasi cenderung lebih ramah lingkungan karena lebih mudah dicerna, sehingga menghasilkan limbah organik yang relatif lebih sedikit, dengan pakan ikan konvensional.
Daya Tahan Simpan

Menurut Centra Bio Tech Indonesia, pakan ikan fermentasi basah sebaiknya digunakan dalam 1-2 hari untuk menjaga kesegaran.
Namun, jika dikeringkan dengan benar dengan kadar air di bawah 10%, dapat disimpan hingga 1-2 bulan dalam wadah kedap udara di tempat sejuk dan kering.
Adapun pakan ikan konvensional melalui Aquatec, umumnya juga bisa memiliki masa simpan yang cukup lama apabila diproduksi dan disimpan dengan benar.
Namun, karena pada bahan bakunya yang mengandung lemak tinggi, risiko cepat basi lebih besar dibandingkan pakan ikan fermentasi yang telah melalui proses pengawetan alami.
Risiko

Pakan ikan fermentasi cenderung memiliki risiko kegagalan yang lebih tinggi, jika proses fermentasi tidak terkontrol. Oleh karena itu, suhu, kelembapan, hingga kontaminasi harus selalu diperhatikan.
Sementara pada pakan ikan konvensional, cenderung memiliki kegagalan risiko yang lebih rendah karena proses pembuatannya yang lebih sederhana. Namun, tetap perlu memperhatikan kadar lemak agar pakan tidak cepat basi.
Baca juga: 6 Jenis Pakan Ikan Nila Tinggi Protein untuk Pertumbuhan Ikan
Salah satu contoh penerapan teknologi fermentasi pada pakan ikan adalah Vitoma yang dikembangkan ANGPHOT.
Vitoma: Pakan Ikan Fermentasi dari ANGPHOT

Vitoma adalah pakan ikan berprotein tinggi yang diproduksi melalui teknologi fermentasi menggunakan bakteri probiotik.
Teknologi fermentasi probiotik digunakan untuk memaksimalkan penyerapan nutrisi pakan, meningkatkan kesehatan ikan, dan menjaga kualitas air tetap jernih untuk menekan risiko kematian.
Kamu dapat mengunjungi langsung website resmi kami untuk mendapatkan produk ini, maupun melalui Katalog Angphot, atau hubungi WhatsApp Admin untuk info lebih lanjut.

Beli Pakan Ikan Organik VITOMA di Official Store ANGPHOT!


