7 Cara Mencegah Degradasi Lahan dan Kekeringan, Apa Saja?

fenomena degradasi lahan dan kekeringan

Tanggal 17 Juni diperingati sebagai Hari Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia atau disebut juga World Day to Combat Desertification. Hari peringatan tersebut dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada 17 Juni 1994.

Hari peringatan tersebut dideklarasikan untuk mengingatkan manusia akan pentingnya melestarikan, merawat, dan melindungi keberlangsungan ekosistem Bumi. Dampak dari fenomena degradasi lahan dan kekeringan bukanlah hal sepele yang mampu mengancam kehidupan manusia.

Lantas, apa saja penyebab, dampak, dan langkah pasti yang mampu diterapkan agar peristiwa degradasi lahan dan kekeringan tidak terjadi? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Degradasi Lahan dan Kekeringan?

Degradasi lahan dan kekeringan merupakan fenomena kerusakan lingkungan yang tidak luput dari ulah tangan manusia. Kedua fenomena alam tersebut tercatat membawa kerugian besar bagi produktivitas pertanian serta menyebabkan krisis air bersih. 

Menurut Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan dalam penelitian Wahyunto dan Dariah, degradasi lahan merupakan fenomena kerusakan lahan akibat aktivitas penggunaan lahan yang tidak wajar sehingga lahan mengalami kerusakan secara fisik, kimia, serta biologis. 

Degradasi lahan dapat berdampak ke fenomena kekeringan. Kekeringan merupakan fenomena yang berkaitan dengan kekurangan air yang dialami oleh masyarakat. Kekeringan dapat berupa kekeringan uap air di udara maupun kekeringan air tanah.

Penyebab dan Dampak Degradasi Lahan dan Kekeringan bagi Kehidupan

Faktor terjadinya degradasi lahan dan kekeringan dapat disebabkan oleh pengaruh cuaca atau akibat dari perilaku buruk manusia. Berikut tiga aktivitas buruk yang sering dilakukan manusia dan dampaknya bagi kemunculan degradasi lahan dan kekeringan.

1. Penebangan Liar tanpa Penghijauan

Penyebab degradasi lahan yang dibawa oleh manusia dampaknya kembali kepada manusia. Degradasi lahan dapat terjadi akibat penebangan lahan secara liar atau deforestasi yang dilakukan oleh manusia tanpa adanya pelestarian

Penebangan hutan secara masif tanpa adanya reboisasi dapat menyebabkan erosi tanah dan perubahan iklim yang mengakibatkan fenomena banjir. Erosi tanah mengakibatkan tanah tidak mampu menyerap air dan kesuburan tanah menjadi hilang.

Lahan menjadi tidak produktif dan kerugian dialami oleh satwa yang hidup di dalam hutan dan pemukiman masyarakat di sekitar hutan yang berpotensi terkena banjir karena tanah tidak lagi mampu menyerap air.

Baca juga: Contoh Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati Di Indonesia

2. Menumpuknya Limbah Organik

Limbah organik menjadi jenis limbah paling populer dan paling banyak mendominasi TPA. Melansir data dari limbahnasional.kemenlh.go.id, sebanyak 75% limbah organik yang belum dikelola dengan baik per tahun 2025. 

Limbah organik yang menumpuk dan berakhir membusuk di TPA berpotensi menimbulkan gas metana. Gas metana merupakan salah satu jenis gas rumah kaca yang mampu menyebabkan pemanasan global, menurunkan kualita udara, dan memicu perubahan iklim.

Selain mampu memicu kerusakan iklim dan pemanasan global, tumpukan limbah organik dapat menciptakan cairan perusak struktur tanah bernama cairan lindi. Cairan lindi terbentuk ketika hujan atau air menggenangi tumpukan limbah. 

Air yang menggenangi tumpukan limbah organik berubah menjadi cairan yang membawa zat berbahaya, seperti merkuri, amonia, phenol, pestisida, bakteri E. coli, dan zat berbahaya lainnya yang mengancam kehidupan keberlanjutan.

Air lindi dapat merusak struktur tanah dan merusak ekosistem yang hidup di permukaan tanah. Lahan yang tercemar berpotensi mengalami degradasi yang mampu menurunkan kualitas lahan. Degradasi lahan membuat ekosistem terganggu dan sumber pendapatan masyarakat terhenti.

Kebakaran Lahan

Pemanasan global akibat meningkatnya kadar gas metana di udara dapat mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global merupakan fenomena meningkatnya suhu bumi meliputi seluruh bagian bumi. 

Suhu bumi yang terus mengalami peningkatan berisiko menimbulkan kebakaran karena kekeringan yang melanda Bumi. Beberapa kasus kebakaran lahan disebabkan oleh meningkatnya suhu bumi yang mengakibatkan kekeringan.

Kebakaran lahan timbul ketika daun-daun saling bergesekan. Aktivitas gesekan tersebut berpotensi menimbulkan percikan api yang menyambar dari satu dahan ke dahan lainnya. Percikan api yang menyambar membentuk kebakaran besar yang menghabiskan lahan. 

Dampak yang dibawa oleh fenomena kebakaran tersebut adalah kerusakan iklim, kualitas udara menurun akibat asap yang mendominasi udara, dan kerusakan ekosistem yang hidup di lahan-lahan yang terbakar.

Baca juga: Gawat! 5 Dampak Pemanasan Global Ini Mengancam Bumi

Langkah Kecil Mencegah Bencana Degradasi Lahan dan Kekeringan

Setelah memahami definisi, pemicu, dan dampak dari fenomena degradasi lahan dan kekeringan, timbul pertanyaan, “Bagaimana cara mencegah terjadinya degradasi lahan dan kekeringan?” 

Sesuatu yang buruk dapat dicegah dengan langkah pasti dan komitmen yang tertanam di hati. Berikut 7 langkah yang bisa Sobat ANGPHOT lakukan untuk mencegah bencana degradasi lahan dan kekeringan.

1. Hijaukan Lahan dengan Reboisasi

Penghijauan kembali lahan yang gundul merupakan solusi jitu mencegah fenomena degradasi lahan dan kekeringan. Reboisasi merupakan aktivitas penanaman pohon di lahan atau hutan terbuka yang semula gundul akibat deforestasi, penebangan liar, atau kebakaran besar.

Aktivitas reboisasi dilakukan bertujuan untuk memulihkan kembali ekosistem dan produktivitas lahan yang semula terhenti. Reboisasi membawa dampak terhadap perubahan iklim dan penyeimbang lingkungan hidup. 

Lahan yang mengalami degradasi dapat dipulihkan dengan melakukan reboisasi. Ekosistem flora dan fauna perlahan dapat hidup kembali karena aktivitas reboisasi mengembalikan rumah mereka. 

Pohon-pohon yang ditanam kembali dapat menyerap gas karbon sehingga mengurangi risiko pemanasan global. Reboisasi pun membantu mengurangi potensi bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor karena pohon berfungsi menyerap air dan memperkuat struktur tanah.

Reboisasi mendukung kehidupan berkelanjutan dengan memulihkan kualitas iklim, menjaga kualitas udara, dan mampu menyeimbangkan suhu bumi. Kegiatan reboisasi memastikan pemanfaatan sumber daya sejalan dengan pelestarian lingkungan.

2. Tidak Membakar Lahan Saat Musim Kemarau Tiba

Aktivitas pembakaran hutan beberapa kali dibutuhkan untuk pengalihan fungsi lahan. Membakar lahan bukanlah kejahatan besar dan masih diperbolehkan dengan alasan yang baik. 

Namun, tidak semua waktu cocok untuk membakar lahan. Ada masa aktivitas membakar lahan sebaiknya tidak dilakukan demi mencegah risiko yang besar, yaitu kebakaran lahan.

Saat musim kemarau, suhu bumi mengalami peningkatan drastis yang mengakibatkan kekeringan dan lahan menjadi gersang. Aktivitas membakar lahan di saat musim kemarau dapat memicu kebakaran lahan karena suhu bumi yang meningkat.

Aktivitas membakar hutan di waktu musim kemarau justru memperparah potensi terjadinya degradasi lahan dan kekeringan karena rusaknya kualitas udara dan tanah akibat api yang melahap lahan tanpa adanya penyeimbangan yang dilakukan oleh air hujan.

3. Membangun Saluran Pelepasan Air

Degradasi lahan dapat terjadi akibat asupan air yang berlebihan. Selain kurangnya asupan air, kadar air yang berlebihan pun dapat merusak lahan. Saluran pelepasan air dengan sistem drainase menjadi solusi untuk mengontrol kadar air yang masuk ke dalam tanah.

Degradasi lahan akibat lebihnya kadar air sering terjadi di daerah dengan curah hujan yang tinggi, seperti pegunungan dan pedesaan yang berada di dataran tinggi.

Jika Sobat ANGPHOT tinggal di daerah dengan curah hujan yang tinggi, membuat jalur pelepasan air merupakan solusi yang pas. Saluran air yang dibuat oleh petani dengan sistem drainase dapat mengalirkan air berlebih ke lahan yang lebih membutuhkan

Baca juga: Budidaya Ikan Sistem Bioflok: Prinsip, Keunggulan, Dan Penerapannya

4. Menerapkan Sistem Irigasi yang Efisien 

Penerapan sistem irigasi yang efisien penting untuk memaksimalkan penggunaan air di sektor pertanian. Penggunaan air berlebih dapat menurunkan produktivitas dan berakhir menjadi penggunaan air yang sia-sia. Penggunaan air berlebih pun dapat mempercepat fenomena kekeringan.

Di industri pertanian modern, terdapat sistem irigasi efisien bernama irigasi tetes dan irigasi sprinkle. Irigasi tetes merupakan merupakan metode irigasi yang langsung meneteskan air ke akar untuk mencegah penggunaan air berlebih.

Irigasi sprinkle merupakan metode irigasi yang meniru curah hujan. Bedanya sistem irigasi sprinkle dapat mengendalikan penggunaan air sesuai kebutuhan tanaman. Air didistribusikan melalui pipa khusus ke saluran sprinkle yang kemudian air diteteskan ke permukaan lahan.

Penggunaan irigasi tetes dan sprinkle mampu mencegah degradasi lahan akibat over irrigation sekaligus berperan dalam gerakan hemat air demi menyelamatkan bumi dari potensi kekeringan.

5. Menghemat Daya Penggunaan Air

Edukasi hemat air sangat diperlukan untuk masyarakat. Gerakan hemat penggunaan air sangat membantu untuk mengurangi potensi fenomena kekeringan dan mengurangi penggunaan air berlebih yang mampu merusak kesuburan tanah.

Penggunaan air secukupnya dapat diwujudkan di berbagai aktivitas rumah tangga, seperti penggunaan kembali air pencuci sayur untuk menyiram tanaman, pemanfaatan kembali air bekas mandi untuk mencuci kendaraan, atau selalu bijak matikan air apabila tidak lagi dibutuhkan. 

Gerakan hemat air dapat disebarluaskan kepada masyarakat dengan bentuk acara interaktif, seperti acara seminar yang memadukan bazaar lingkungan yang dapat menarik perhatian masyarakat khususnya untuk ibu rumah tangga.

Baca juga: Jenis-Jenis Urban Farming, Pertanian Modern Di Tengah Kota

6. Bijak Mengelola Limbah Organik 

Seperti yang telah disebut di atas, limbah organik dapat melepaskan gas metana penyebab pemanasan global dan cairan lindi berpotensi mengakibatkan degradasi lahan dan kekeringan. Aktivitas mengumpulkan, memilah, dan memanfaatkan kembali limbah organik adalah solusi yang tepat.

Limbah organik hasil aktivitas rumah tangga, seperti limbah sisa makanan, sayuran, cangkang telur, dan lainnya dapat didaur ulang menjadi produk ramah lingkungan. 

Limbah organik dapat didaur ulang menjadi produk bermanfaat, seperti pupuk organik, pakan ternak, biogas, hingga ornamen rumah tangga. Tidak hanya menjadi produk bernilai jual, memanfaatkan kembali limbah organik mendukung keberlanjutan dan mendorong perubahan kualitas iklim ke arah yang lebih baik

7. Memanfaatkan Produk Ramah Lingkungan

Sejalan dengan langkah ke-6, memanfaatkan produk ramah lingkungan serupa dengan berkontribusi langsung untuk keberlangsungan bumi dalam bentuk upaya menekan potensi degradasi lahan dan kekeringan.

Saat ini, banyak pelaku usaha modern yang turut memperhatikan kesejahteraan lingkungan. Bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan para pelaku usaha ramah lingkungan memadukan kesejahteraan ekonomi dan lingkungan. 

Produk Vitoma ANGPHOT adalah salah satu hasil inovasi berbasis sustainability yang memadukan kesejahteraan ekonomi dengan kesejahteraan sosial-lingkungan. ANGPHOT memanfaatkan limbah organik yang terkumpul melalui mitra Program Tabungan Limbah ANGPHOT untuk kemudian diolah kembali menjadi produk pakan ikan fermentasi Vitoma yang bernilai jual. 

Dengan menggunakan bakteri probiotik, Vitoma memaksimalkan penyerapan nutrisi pada ikan dan mampu meningkatkan bobot ikan. Limbah organik yang terdekomposisi dengan baik membuat pakan Vitoma tidak meninggalkan endapan di air kolam. 

Harga jual produk pakan ternak ramah lingkungan lebih murah 7%—10% dibandingkan dengan pakan ikan komersial. Selain ramah lingkungan, produk pakan ikan olahan limbah organik mampu menjadi solusi efisien dan mendukung keberlanjutan pembudidaya ikan.

Kesimpulan

Bahaya fenomena degradasi lahan dan kekeringan menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia. Degradasi lahan mengakibatkan aktivitas pertanian dan perkebunan terhenti. Kekeringan membuat kelangkaan sumber air bersih sebagai kebutuhan pokok makhluk hidup.

Edukasi terkait dampak dan langkah konkret untuk mencegah degradasi lahan dan kekeringan harus disampaikan kepada masyarakat. Langkah kecil yang kita lakukan saat ini sangat berpengaruh bagi masa depan. 

Vitoma untuk pakan lele dan ikan ikan air tawar lainnya

Beli Pakan Ikan Organik VITOMA di Official Store ANGPHOT!

Facebook Comments Box
Scroll to Top