10 Kesalahan dalam Budi Daya Ikan yang Bikin Rugi!

kesalahan dalam budi daya ikan

Budi daya ikan merupakan salah satu usaha akuakultur yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik, terdapat 444 pengusaha budi daya ikan di Indonesia per tahun 2024. 

Terlepas dari tingginya potensi keuntungan dari budi daya ikan, terdapat ancaman kerugian di dalam prosesnya. Salah satu kasus kerugian dialami oleh seorang pembudidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Hanya dalam kurun waktu satu minggu, pembudidaya kehilangan 7.000 ikan lele dari 17.500.

Kerugian tersebut tidak lepas dari adanya kesalahan dalam budi daya ikan. Pembudidaya sering melakukan kesalahan yang berujung menimbulkan kerugian yang berakibat pada kesuksesan budi daya secara sengaja maupun tidak. 

Catat! 10 Kesalahan dalam Budi Daya dan Dampaknya

Kesalahan dalam budi daya yang kerap kali terabaikan oleh pembudidaya dapat berisiko menghambat keberlanjutan budi daya hingga risiko kegagalan usaha.

Lantas, apa saja bentuk kesalahan dalam budi daya ikan yang harus dihindari? Bagaimana cara menanggulangi risiko kerugian dalam budi daya? Yuk, kita pahami bersama!

1. Memilih Bibit Ikan Berkualitas Rendah

Kesalahan paling mendasar yang dilakukan oleh pembudidaya pemula adalah memilih bibit ikan berdasarkan harga dan peluang keuntungan yang besar tanpa melihat kualitas biologisnya. 

Umumnya, bibit ikan yang lahir dari indukan dengan kualitas yang kurang baik atau hatchery biasanya memiliki laju pertumbuhan yang lambat, tingkat ketahanan hidup yang rendah, dan lebih rentan terjangkit penyakit. 

Akibat dari memilih bibit dengan kualitas rendah adalah biaya produksi justru meningkat karena pembudidaya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan, penambahan bibit, atau penambahan masa pemeliharaan. 

Bibit ikan berkualias biasanya memiliki ukuran yang sama, aktif berenang, responsif terhadap serangan, tidak ada cacat fisik, dan bersumber dari pembibit bersertifikasi. 

2. Mengabaikan Kualitas Air Kolam

Abai terhadap kualitas air kolam menjadi salah satu kesalahan dalam budi daya ikan yang mendasar karena langsung berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan ikan serta berpengaruh untuk produktivitas budi daya. 

Pembudidaya perlu memantau kadar suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrit, alkalinitas, dan kekeruhan pada air kolam. Air dengan kadar amonia tinggi menyebabkan ikan mengalami stres kronis, menghambat pertumbuhan, menurunkan sistem kekebalan tubuh, hingga memicu kematian massal.

Kualitas air yang buruk juga berakibat pada keberlangsungan budi daya. Buruknya kualitas air mampu menghambat efisiensi proses konversi pakan menjadi daging pada ikan. Akibatnya, laju produksi pada budi daya ikan menjadi lambat.

Baca juga: 10 Tips Agar Bibit Lele Tidak Mudah Mati, Apa Saja?

3. Berlebihan dalam Memberi Pakan

Kesalahan dalam budi daya ikan yang sering terjadi adalah pemberian pakan dengan skala yang berlebihan dengan harapan ikan dapat tumbuh lebih cepat. Faktanya, ikan memiliki porsi pertumbuhan sesuai dengan bobot tubuh, umur, suhu air, dan kondisi fisiologisnya. 

Pakan ikan yang tidak dikonsumsi oleh ikan karena jumlah yang terlalu banyak akan mengendap di dasar kolam, membusuk, dan menghasilkan senyawa beracun, seperti amonia, hidrogen sulfida, dan senyawa beracun lainnya. 

Selain berdampak pada pencemaran air kolam, pemberian pakan tanpa perhitungan yang tepat dapat meningkatkan Feed Conversion Ratio (FCR), yaitu semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram ikan yang berpotensi mengurangi keuntungan budi daya. 

4. Kadar Padat Tebar Terlalu Tinggi

Pembudidaya pemula sering menebar ikan dengan jumlah yang berlebihan dengan harapan keuntungan panen akan semakin besar. Sayangnya, pemikiran tersebut termasuk ke dalam kesalahan dalam budi daya ikan.

Padat tebar yang berlebihan justru meningkatkan persaingan terhadap pasokan oksigen, ruang gerak, dan pakan. Kondisi tersebut mengakibatkan ikan mengalami stres,kualitas  pertumbuhan tidak sama, dan lebih rentan terjangkit penyakit. 

Bagi budi daya, padat tebar yang kurang ideal dapat merusak kualitas air karena peningkatan limbah metabolisme. Akibatnya, produktivitas air kolam menjadi menurun meskipun ikan yang ditebar jumlahnya banyak. 

5. Tidak Menerapkan Biosekuriti 

Melansir dari tulisan Syahputra (2017), biosekuriti merupakan sebuah prosedur yang bertujuan untuk mencegah, mengendalikan, dan mengelola risiko yang dimiliki oleh kehidupan dan kesehatan dari ancaman luar.

Dalam konteks budi daya ikan, biosekuriti diterapkan untuk menurunkan tingkat risiko kontaminasi bakteri, virus, jamur, hingga parasit pada ikan. Alat pendukung budi daya sering dibiarkan kotor tanpa proses desinfeksi. 

Selain alat pendukung, kesalahan dalam budi daya ikan yang berkaitan dengan sistem biosekuriti adalah pembudidaya lalai menyatukan ikan baru dengan ikan lama tanpa adanya proses karantina.

Dampak tidak menerapkan sistem biosekuriti adalah kerugian terhadap budi daya yang harus mengeluarkan anggaran lebih untuk pengobatan ikan karena mencegah lebih murah daripada mengobati.

6. Tidak Memantau Pertumbuhan

Kesalahan dalam budi daya ikan yang sering terjadi adalah pembudidaya hanya menunggu waktu panen tanpa memantau dan mengevaluasi pertumbuhan ikan selama proses pemeliharaan.

Pemantauan berperan penting terhadap pengetahuan kenaikan bobot ikan, tingkat keberlangsungan hidup, keseragaman ukuran, dan efisiensi pemberian pakan. 

Tanpa adanya pengetahuan tersebut, pembudidaya sulit menentukan kebutuhan pakan yang tepat dan mendeteksi jika terjadi gangguan pertumbuhan pada ikan. Pemantauan rutin pun dapat membantu memperkirakan waktu panen yang baik sehingga alur dapat disesuaikan dengan minat pasar.

7. Terlambat Mengenali Gejala Penyakit

Kesalahan dalam budi daya ikan berikutnya adalah pembudidaya terlambat mengenali gejala penyakit yang dialami oleh ikan, seperti nafsu makan menurun atau cara berenang ikan yang melambat. Padahal, perubahan perilaku pada ikan merupakan indikator utama dalam mendeteksi penyakit.

Jika ikan menimbulkan gejala aneh, seperti mengambang di permukaan air, tubuh menghitam, sirip rusak, muncul luka, atau berenang tidak normal, pembudidaya harus segera mengidentifikasi penyakit dari gejala-gejala tersebut dan segera menghubungi dokter atau orang yang berpengalaman. 

Penanganan yang terlambat berisiko mempercepat penyebaran penyakit hingga berisiko kematian. 

Baca juga: Waspada! 4 Gejala Keracunan Pada Ikan Ini Cukup Berbahaya Dan Mematikan

8. Memberi Pakan Kualitas Rendah atau Salah Penyimpanan

Tidak jarang pembudidaya memilih pakan ikan dengan harga yang terjangkau tanpa mempertimbangkan kualitas bahan baku, nutrisi, dan tingkat kecernaannya. Lalu, pakan yang dibeli disimpan di ruang yang lembap, terpapar sinar matahari secara berlebihan, atau banyak sarang hama.

Kebiasaan tersebut termasuk kesalahan dalam budi daya ikan yang sangat merugikan usaha budi daya. Pakan menjadi sumber kebutuhan pokok ikan yang dapat menentukan kualitas hidupnya. 

Pemilihan dan penyimpanan pakan yang salah dapat memperlambat pertumbuhan, menurunkan tingkat daya tubuh, serta memperburuk efisiensi pakan. Kesalahan dalam budi daya ikan tersebut mengharuskan pembudidaya mengeluarkan anggaran lebih untuk mengganti produk pakan secara terus-menerus.

9. Tidak Menghitung Anggaran dan Keuntungan

Pembudidaya pemula umum melakukan perhitungan jumlah ikan yang dipanen tanpa menghitung keseluruhan biaya produksi dari awal hingga hari panen tiba. Hal tersebut merupakan kesalahan dalam budi daya ikan yang umum dihadapi oleh pemula.

Pembudidaya dapat mengetahui jumlah keuntungan bersih melalui perhitungan biaya keseluruhan, seperti pembelian bibit ikan, pakan, listrik, pekerja, obat-obatan, hingga penyusutan peralatan. 

Tanpa adanya pencatatan dan perhitungan keuangan yang baik, pembudidaya sulit mengevaluasi efisiensi dari kegiatan usaha selama satu periode serta sulit menentukan strategi pengembangan bisnis yang tepat.

10. Memanen di Waktu yang Salah

Tidak memperhatikan waktu panen menjadi kesalahan dalam budi daya terakhir yang sering terjadi. Panen dini berdampak pada ukuran ikan yang belum mencapai standar pasar sehingga harga jual jauh lebih rendah.

Sebaliknya, panen terlambat dapat berakibat ikan berisiko terkena penyakit, penurunan kualitas ikan, dan biaya pakan meningkat. Tanggal panen sebaiknya ditentukan berdasarkan target ukuran dan permintaan pasar, laju pertumbuhan ikan, serta biaya produksi.

Dengan mempertimbangkan waktu panen yang tepat, pembudidaya dapat menentukan harga yang optimal sehingga keuntungan yang didapat lebih besar daripada anggaran produksi.

Solusi dan Keuntungan Menerapkan Kebiasaan Budi Daya yang Tepat

Di balik kesalahan dalam budi daya ikan yang umum dilakukan oleh para pembudidaya, terdapat solusi yang bisa dilakukan oleh pembudidaya dalam menghindari 10 kesalahan tersebut.

Yuk, merapat! Ini dia 7 hal yang dapat dilakukan oleh pembudidaya ikan mulai dari awal hingga proses produksi berlangsung agar panen sukses besar.

1. Mulai dengan Bibit Berkualitas dan Jenis Ikan yang Sesuai

Cara jitu dalam memilih bibit dengan kualitas terbaik adalah melalui produsen dengan reputasi yang baik, menerapkan standar pembibitan yang sesuai, dan menyediakan bibit berukuran yang sama. 

Pembudidaya disarankan menghindari membeli bibit ikan hanya berdasarkan harga jual yang murah sebab harga yang murah biasanya dapat menyebabkan kerugian akibat tingginya angka kematian dan pertumbuhan yang lambat.

Selain memperhatikan kualitas bibit, pemilihan jenis ikan pun harus diperhatikan. Kesalahan dalam budi daya ikan sering terjadi akibat memilih jenis ikan hanya berdasarkan tren atau yang memiliki harga jual yang tinggi.

Faktanya, jenis ikan punya kebutuhan lingkungan, teknik pemeliharaan, dan tingkat kesulitan yang berbeda. Sebaiknya pilihlah jenis ikan yang sesuai dengan kondisi lingkungan, kualitas air, dan ketersediaan pakan di daerah setempat. 

Lakukan riset pasar untuk mengetahui minat konsumen, pola distribusi, dan fluktuasi harga. Dengan peduli terhadap kualitas bibit dan langkah-langkah memilih jenis ikan, risiko kerugian dapat ditekan sejak awal proses budi daya.

2. Utamakan Kualitas Air Kolam

Kualitas air kolam yang baik mendorong metabolisme ikan, meningkatkan nafsu makan, serta mengurangi risiko penyakit pada ikan. Melakukan pengecekan rutin terhadap pH, oksigen terlarut, kadar amonia, nitrit, dan kekeruhan air perlu dilakukan oleh pembudidaya.

Pastikan sistem perairan berfungsi dengan baik dan ganti air kolam sesuai dengan kebutuhan serta keadaan ikan. Kualitas pemberian dan jenis pakan pun dapat memengaruhi kebersihan air kolam.

Hindari penumpukan pakan di dasar kolam dengan cara pemberian pakan secukupnya dan pembudidaya dapat mengganti pakan konvensional dengan pakan fermentasi yang telah terdekomposisi dengan baik sehingga tidak meninggalkan endapan residu di dasar air. 

Baca juga: Pakan Fermentasi vs Pakan Konvensional, Mana yang Lebih Baik untuk Ikan?

3. Perhatikan Kadar Pakan

Pakan ikan menjadi aspek budi daya yang dapat dipenuhi dengan harga fantastis sehingga perlu dilakukan efisiensi dalam pemberiannya. Pembudidaya dapat memberikan pakan sesuai dengan umur, ukuran, dan fase pertumbuhan.

Perhatikan respons ikan ketika proses pemberian pakan dan sesuaikan jumlah pakan agar tidak tersisa yang berakibat mencemari air kolam. Beri pakan yang mengandung nutrisi sesuai dengan ikan dan simpan pakan di ruang yang kering dengan sirkulasi udara yang baik. 

Pemberian pakan dengan jumlah yang tepat dapat meningkatkan efisiensi Feed Conversion Ratio (FCR) sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi tingkat produktivitas budi daya.

4. Pastikan Padat Tebar Ideal

Ambisi ingin memperoleh keuntungan panen besar sering mendorong pembudidaya pemula melakukan kesalahan dalam budi daya ikan, yaitu menebar ikan dengan jumlah yang berlebihan.

Langkah yang dapat dilakukan oleh pembudidaya adalah tentukan jumlah bibit berdasarkan ukuran besar kolam, sistem budidaya yang digunakan, kapasitas aerasi, dan kemampuan pengelolaan harian. 

Dengan membuat perkiraan tersebut, peluang hidup ikan lebih besar dengan pemenuhan kebutuhan yang merata. Keuntungan terhadap budi daya pun tidak perlu dikhawtirkan karena ikan berkembang dengan baik.

Baca juga: 7 Rahasia Budidaya Ikan Nila Di Kolam Tanah

5. Terapkan Biosekuriti, Pemantauan, dan Pencatatan Rutin

Biosekuriti sebaiknya dijadikan sistem yang hadir di setiap aktivitas budi daya ikan demi menghindari kesalahan dalam budi daya ikan yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan.

Biosekuriti dilakukan dengan cara disinfeksi peralatan budi daya secara berkala, melakukan karantina untuk bibit ikan yang baru sebelum dicampur ke kolam utama, serta batasi akses dari luar yang berpotensi membawa hama patogen.

Selain itu, segera pisahkan ikan yang menunjukkan gejala penyakit agar penyakit tidak menyebar ke seluruh ikan. Efektivitas sistem biosekuriti dapat didukung dengan pemantauan dan pencatatan secara rutin. 

Pembudidaya dapat memantau keseluruhan budi daya dan mencatat data yang diperlukan, seperti jumlah bibit yang ditebar, tingkat keberlangsungan hidup, laju pertumbuhan ikan, penggunaan pakan ikan, kualitas air, biaya operasional, hingga hasil panen.

Dengan menerapkan sistem biosekuriti yang baik, risiko kematian massal akibat wabah penyakit dapat dicegah secara efektif. Pemantauan dan pencatatan rutin mendukung pembudidaya dalam menentukan jumlah pakan, memperbaiki manajemen kolam, serta menentukan tanggal panen.

6. Disiplin dalam Mengelola Keuangan Usaha

Keuntungan budi daya tidak bisa diukur hanya melihat banyaknya ikan yang dipanen. Pembudidaya harus ikut menghitung seluruh biaya produksi mulai dari pembelian bibit, pakan, listrik, tenaga kerja, obat-obatan, sampai ke biaya perawatan kolam. 

Pembudidaya disarankan memisahkan uang pribadi dengan uang budi daya agar arus kas lebih mudah dipantau. Dengan sistem keuangan yang baik, pembudidaya dapat mengetahui biaya produksi per kilogram ikan, menghitung keuntungan, dan menentukan strategi pengembangan usaha.

7. Bersahabat dengan Teknologi

Budi daya akuakultur turut menjadi sektor yang mengalami kemajuan akibat teknologi. Saat ini, teknologi akuakultur semakin maju, seperti munculnya sensor kualitas air, pemberian pakan otomatis, aplikasi pencatatan produksi, hingga sistem budi daya berbasis bioflok atau resirkulasi air (RAS).

Teknologi digunakan demi mendukung efisiensi pada budi daya. Selain bagi budi daya, teknologi dapat membantu pembudidaya, seperti kemunculan aplikasi daring untuk membeli pakan, berkomunikasi bersama pembudidaya lain, dan mencari informasi yang berkaitan dengan aspek produksi.

Pembudidaya pemula disarankan terus memperdalam pengetahuan dengan mengikuti seminar, pelatihan, membaca literatur ilmiah, maupun mengikuti pendampingan dari penyuluhan perikanan. Keterbukaan akan teknologi memungkinkan perkembangan pada budi daya. 

Kesimpulan

Dari 10 kesalahan dalam budi daya ikan yang telah kita pelajari bersama, dapat dilihat bahwa keuntungan tidak hanya didukung oleh tingkat penjualan saja, tetapi juga ditentukan dengan bagaimana pembudidaya mampu mengelola usahanya dengan baik. 

Terdapat banyak sekali faktor pendukung kesuksesan budi daya dari awal perencanaan hingga proses panen. Pembudidaya dapat mengoptimalkan keuntungan dengan upaya perencanaan dan pemantauan rutin.

Pemilihan bibit dan pakan berkualitas menjadi upaya utama yang perlu dilakukan oleh pembudidaya agar terhindar dari kesalahan dalam budi daya ikan. Untuk itu, ANGPHOT hadir sebagai produsen bibit ikan berkualitas dan pakan ikan tinggi protein Vitoma.

Dengan memerhatikan kebutuhan dan kesuksesan budi daya, ANGPHOT memberikan harga produk yang masih terjangkau dengan tetap memberikan kualitas terbaik. Langsung kunjungi toko resmi kami untuk mengetahui selengkapnya!

Facebook Comments Box
Scroll to Top